Pesona Dorstenia Tiada Tara

Pesona Dorstenia Tiada Tara

Tempat hidupnya bukan tanah yang ramah bagi kebanyakan tanaman. Ia hidup di atas tanah kerontang dan berbatu. Keruan saja unsur hara amat tipis. Begitu pun air. Itulah dorstenia yang memberikan keelokan tiada tara. Untuk menyiasati lingkungan ekstrem ia menabung air dan hara di batang yang gembung. Soal batang yang menggembung itu salah satu pesona dorstenia.

Keelokan lain bentuk daun yang unik dan beragam. Pesona kerabat tin itu menggiring para pehobi tanaman dunia mengunjungi dorstenia di alam. Yang paling terkenal adalah Dorstenia gigas sebab paling bongsor di antara spesies lain. Tingginya bisa mencapai 1,2 m. Nurseri-nurseri di Eropa dan Amerika berhasil memperbanyak tanaman endemik Pulau Socotra, Yaman, itu dengan setek.

Amat langka
Nama dorstenia di tanahair memang kurang populer. Setidaknya jika dibandingkan dengan adenium atau aglaonema. Hanya segelintir pehobi yang menyimpan tanaman anggota keluarga Moraceae itu. Apalagi yang berjenis langka dan berpenampilan sempurna semakin menguatkan posisi dorstenia—namanya pinjaman botanis Jerman, Theodor Dorsten—sebagai tanaman eksklusif

Kolektor di Surabaya, Provinsi Jawa Timur, Sugita Wijaya, memiliki tiga pot D. gypsophila. Gypsophila tergolong sangat langka dan nyentrik. Tanaman yang berhasil dideskripsikan oleh John Jacob Lavranos pada 1972 itu menghuni sebuah wilayah kecil dan terik di Somalia. Di sana gypsophila hidup liar di tanah liat dan kering-kerontang. Batangnya hanya mampu tumbuh hingga 50 cm, diameternya mencapai 2,5 m.

Siapa tak bungah menjumpai tanaman unik itu. Di atas batang itu muncul cabang-cabang berbentuk tabung panjang. Daun gypsophila hijau bulat, bergelombang di tepi, dan hanya ada di ujung batang. Bila masa dorman tiba, daun-daun itu berubah jingga lantas gugur. Ciri khas gypsophila dan dorstenia jenis lain adalah berbunga unik. Bentuknya bundar, tebal, dan bertentakel di bagian tepi yang sejatinya adalah daun pelindung.

Untuk berkembang biak, gypsophila mengandalkan biji dari bunga-bunga matang. Gypsophila koleksi Wijaya sangat istimewa, masing-masing berumur 30 tahun, 40 tahun, dan 60 tahun—lebih tua daripada umur pemiliknya. Pangkal batangnya gendut berwarna cokelat dan keriput. “Merawat dorstenia mudah asal lingkungan tempat tumbuh menyerupai habitat asalnya,” ujar Sugita.

Ia menjaga koleksinya itu bersama tanaman sukulen lain pada rumah tanam beratap plastik ultraviolet dengan persentase cahaya masuk 80%. Pria yang bergelut di dunia rancang bangun itu juga mengoleksi sebuah D. barnimiana dan D. foetida mutasi. Barnimiana pertama kali dideskripikan oleh Georg August Schweinfurth pada 1862. Habitatnya di tanah-tanah gambut Afrika timur.

Berburu
Sosok barnimiana amat mungil, paling tinggi 5 cm dengan ketebalan batang 4 cm. Warna batangnya cokelat emas dan bertekstur kasar. Yang menarik, barnimiana milik ketua komunitas Cactus and Succulent Society of Indonesia berdaun cokelat gelap. Lazimnya, hijau. Kelainan juga tampak pada D. foetida. “Batangnya merumpun,” ujar Sugita. Penampilannya semakin cantik dipenuhi dedaunan hijau berbentuk oval di ujung batang.

Foetida dapat beradaptasi di tanah basah dan kering. Tanaman yang tersebar di Somalia, Kenya, Tanzania, Arab Saudi, dan Ethiopia itu menyukai sinar matahari dan suhu hangat. Pehobi lain yang jatuh hati pada dorstenia adalah Fernando Manik di Jakarta Pusat. Ia mengoleksi beragam jenis dorstenia. Demi kecintaannya pada tanaman bonggol membawa pria ramah itu mendatangkan dorstenia dari nurseri-nurseri di luar negeri.

Koleksinya paling anyar adalah D. hildebrandtii var. crispum. Setahun silam ia mendatangkan hildebrandtii berumur dua tahun itu dari perbanyakan biji. Hildebrandtii tumbuh dari umbi akar (rhizoma) dan batang (tuber). Batangnya tegak hingga 70 cm. Nando, sapaannya, juga memburu D. lavrani dan D. horwoodii. Lavrani ditemukan oleh John Lavranos pada 1973 di Somalia Utara.

Sekitar tiga dasawarsa kemudian Tom Mc Coy dan Mike Massara mendeskripsikan tanaman itu dan menyematkan nama lavrani untuk menghormati jasa sang penemu. Lavrani hidup di celah-celah batu kapur curam berselimut lumut. Panjang batang maksimal 15 cm dengan ketebalan 3 cm. Lavrani tergolong berumah dua. Setiap tanaman hanya memiliki bunga jantan atau betina.

“Itu sebabnya untuk menghasilkan benih, pehobi harus memiliki satu set lavrani berkelamin beda,” ujar Nando. Horwoodii juga spesies asal Somalia yang ditemukan oleh Frank Horwood, botanis asal Inggris. Daunnya berbentuk lanset dan keriting di bagian tepi. Seluruh daun berkumpul di ujung batang mengingatkan pada sosok kelapa Cocos nucifera. Keunikan itulah yang menimbulkan kerinduan di hati para pehobi.

Login

WhatsApp chat WhatsApp saya