Perisai Raja Rempah

Perisai Raja Rempah

Serai wangi terbukti ampuh mengatasi serangan hama pengisap buah lada.

“Kabar buruk, Pak. Hasil panen kali ini menurun daripada musim sebelumnya. Buah lada banyak yang kering dan tidak dapat dipanen,” ujar pekerja sambil menunjukkan butiran lada di telapak tangannya kepada Harris. Petani lada di Provinsi Bangka Belitung itu mengamati buah yang kering sambil memendam kekecewaan.

Kerusakan buah lada di kebun Harris cukup besar. Ia memperkirakan 25% produksi dari 3.000 tanaman di lahan 2 ha rusak. Pada kondisi normal, panen rata-rata 9,5 kg lada putih per tanaman atau total 28.500 kg. Bila harga lada putih Rp130.000 per kg, kerugian Harris Rp231-juta. “Serangan hama pengisap buah lada memang menjadi momok petani di sini,” ujar Harris.

Hama utama
Harris tidak bisa berbuat banyak menghadapi kendala itu karena harga pestisida kimia semakin mahal. Itulah sebabnya ia tidak mengendalikan hama pengisap buah lada Dasynus piperis. Salah satu musuh utama lada itu dijumpai hampir di seluruh sentra lada di Indonesia. D. piperis menyerang buah lada sejak berumur 4,5 bulan atau mulai matang susu. Serangga itu menusukkan stilet dan mengisap cairan buah sehingga buah kosong dan rusak.

Akibatnya buah menjadi hitam dan muncul bercak-bercak bekas lubang tusukan. Serangan pada buah muda mengakibatkan untaian buah gugur sebelum tua. Jika serangga itu menyerang buah tua mengakibatkan kering dan tidak layak jual. Peneliti dan ahli hama dan penyakit tanaman dari Balittro, Dr Dyah Manohara, mengatakan kerusakan akibat hama terjadi pada fase produktif dan vegetatif.

“Serangan pada bagian yang produktif berakibat langsung terhadap gagal panen. Sementara serangan pada bagian vegetatif berakibat tidak langsung terhadap kehilangan hasil, tetapi berpotensi mengakibatkan kematian tanaman,” lanjut peneliti lulusan Institut Pertanian Bogor itu. Pengisap buah lada termasuk hama yang menyerang bagian produktif dan harus diatasi dengan bahan pengusir atau pembunuh organisme pengganggu tanaman.

Petani umumnya mengatasi serangan D. piperis dengan insektisida berbahan kimia sintetis. Penggunaan pestisida itu memang mampu membasmi hama secara cepat. Namun, dalam jangka panjang berdampak negatif bagi keseimbangan ekosistem kebun. Oleh karena itu Rohimatun SP., MP dan Prof Dr Ir I Wayan Laba, MSc, mengkaji potensi minyak serai wangi dan cengkih untuk mengendalikan D. piperis.

Peneliti di Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat itu meneliti minyak serai wangi dan cengkih itu di lahan tadah hujan di Desa Sungkap, Kecamatan Simpangkatis, Kabupaten Bangka Tengah, Kepulauan Bangka Belitung. Serai wangi mengandung sitronellal, senyawa aktif yang bekerja sebagai racun perut. Adapun zat eugenol dalam cengkih memiliki gugus alkohol yang melemahkan dan mengganggu sistem saraf serangga.

Login

Dapatkan GRATIS ongkir untuk tujuan pengiriman pulau Jawa dengan pembelian minimum Rp 300,000 Tutup

Contact Person WhatsApp saya