Pengidap Hipertensi Makanlah Kucai

Kosasih Padmawinata tetap tenang ketika mengetahui tekanan darahnya 140 mmHg; normal, di bawah 120 mmHg. Bukan ke apotek untuk menebus resep, pria 65 tahun itu justru bergegas ke pasar swalayan untuk membeli kucai. Sayuran anggota famili Liliaceae itulah yang menyembuhkan darah tingginya.

Ia merebus 200 gram kucai dalam 3 gelas air hingga mendidih dan tersisa segelas. Ramuan itu ia minum 3 kali sehari usia makan hingga ia sembuh 2 bulan berselang. Kesembuhan pria kelahiran Bandung 23 November 1934 itu mengilhami Lia Amalia, periset di Sekolah Tinggi Farmasi Institut Teknologi Bandung untuk meneliti efektivitas kucai sebagai antihipertensi. Lia mengekstrak 250 mg kucai berumur            2 bulan.

Lia menguji klinis ekstrak itu dengan melibatkan 47 pasien hipertensi bertekanan darah di atas 140 mmHg. Selama 8 pekan, Lia memberikan 250 mg ekstrak kepada mereka. Hasilnya menggembirakan. Ekstrak kucai menurunkan tekanan darah sistolik dan diastolik. Yang disebut pertama adalah angka saat fase darah sedang dipompa jantung atau kontraksi; diastolik, angka saat fase darah kembali ke dalam jantung alias berelaksasi.

Kucai menurunkan 28,67 mmHg tekanan darah sistolik, 4,64 mmHg tekanan darah diastolik. Jika dosis diperbesar menjadi 500 mg, kucai menurunkan tekanan sistolik 13,31 mmHg dan diastolik 4,64 mmHg. Khasiat kucai antihipertensi karena mengandung senyawa tetrametiloksamida dan ester 17-etadekadesenil. Efek antihipertensi ekstrak kucai sebanding dengan atenolol dosis 25 mg. Atenolol adalah zat penurun hipertensi yang kerap diresepkan dokter kepada para pasien.

Praklinis

Hasil uji klinis itu sejalan dengan riset praklinis yang juga ditempuh Lia. Ia menginjeksi 50 mg ekstrak kucai ke tikus percobaan. Kelompok lain diberi dosis 100 mg ekstrak kucai. Lia menginjeksi tikus pembanding dengan atenolol. Ia mengamati perubahan frekuensi denyut jantung, amplitudo stroke volume, perubahan kadar nitrogen oksida darah, serta pengeluaran cairan dan elektrolit.

Ekstrak kucai terbukti tidak mempengaruhi amplitudo stroke volume. Artinya, konsumsi ekstrak kucai tidak meningkatkan denyut jantung yang sangat tinggi. Pengidap hipertensi tentu saja menghindari denyut jantung tinggi. Sebab, denyut tinggi memaksa darah memasuki pembuluh jantung yang sempit lebih cepat. Akibatnya darah menumpuk di pembuluh dan menyebabkan pembuluh darah pecah.

Lia mengatakan, “Tak perlu khawatir mengkonsumsi kucai karena aman pada dosis tinggi sekali pun.” Itu berdasarkan uji toksisitas akut pada mencit swiss Webster yang menunjukkan bahwa LD (lethal dosage atau dosis mematikan) di atas 5.000 mg/kg bobot tubuh tikus. Angka itu bermakna bahwa dosis mematikan untuk membunuh separuh hewan percobaan mencapai 5.000 mg/kg bobot tubuh tikus.

Satwa pengerat itu mengidap hipertensi setelah Lia menyuntikkan adrenalin dan natrium klorida. Pada uji toksisitas subkronis selama 90 hari menunjukkan dosis 50 mg dan 200 mg/kg bobot tubuh pada tikus Sprague dawley, ekstrak kucai tidak mempengaruhi biokimia darah, lipoprotein, dan jaringan di organ tikus. Setelah dosis ditingkatkan menjadi 400 mg/kg bobot, barulah ada perubahan pada jaringan ginjal, testis, uterus, ovarium, hati, limpa, dan jantung.

Penyeimbang Darah

Kucai Allium schoenoprasum di kalangan ibu rumahtangga sohor sebagai penyedap masakan. Ahli kuliner mencacah sayuran itu sebagai campuran telur dadar, tahu, bakwan udang, dan martabak. Aromanya sedap, membuat kucai menjadi salah satu bumbu masakan favorit. Sayuran itu digunakan untuk menambah rasa pedas dan menyeimbangkan rasa masam cuka pada asinan.

Menurut Prof. Dr Sumali Wiryowidagdo, ahli farmasi dari Universitas Indonesia, kucai lazim sebagai penyeimbang darah. Rata-rata konsumsi 3 umbi per hari tak berefek samping apa pun. Pada uji praklinis, Lia juga menguji kadar nitrogen oksida (NO) pada darah tikus. Setelah menginjeksikan ekstrak kucai, laju penurunan NO pada darah tikus dapat diminimalisir. Pada waktu 90 menit, tikus tanpa perlakuan, kadar NO akhir 200 um, sedangkan tikus terinjeksi 100 mg kucai: 450 um.

Nilai itu lebih tinggi dibanding kadar NO tikus terinjeksi isosorbid dinitrat (ISDN) atau antihipertensi sintetis; yang mencapai 150 um. Makin tinggi kadar NO dalam darah, makin lebar pembuluh darah dan mempercepat laju aliran darah. Dengan demikian penyumbatan darah yang berakhir pada stroke pun terhindar.

Selain kadar NO darah, kadar natrium dan kalsium pada urine juga diukur dengan spektrofotometer. Kalium berfungsi sebagai diuretik sehingga pengeluaran natrium cairan meningkat. Jumlah natrium rendah, tekanan darah turun. Hasilnya pengeluaran kadar NA dan K pada urine tikus sama dengan pengeluaran pada kelompok furosemid, obat diuretik bagi pengidap hipertensi. Konsumsi kucai 100 mg/kg bobot tubuh sama dengan furosemid 1,8 mg/kg bb.

Peringkat ke-10

Hipertensi menduduki peringkat ke-10 penyebab kematian di Indonesia. Untuk kategori kesakitan pasien rawat jalan, hipertensi di peringkat ketiga. Sayangnya, penyakit itu sering kali tak terdeteksi lebih awal. Hipertensi termasuk penyakit mematikan. “Kondisi hipertensi sering kali hanya dapat terdeteksi setelah tekanan darah pasien diukur saat berkunjung ke sarana pelayanan kesehatan seperti rumah sakit dan praktek dokter,” kata Lia.

Hipertensi ditandai peningkatan tekanan darah di arteri yang menyebabkan resiko stroke, aneurisma, gagal jantung, dan serangan jantung. Ketika usia bertambah, tekanan darah meningkat; tekanan sistolik terus meningkat sampai usia 80 tahun dan tekanan diastolik terus meningkat sampai usia 55-60 tahun. Tekanan darah kemudian berkurang perlahan bahkan menurun drastis.

Ekstrak kucai mengandung senyawa aktif berkhasiat obat seperti flavonoid, saponin, dan steroid. Kucai kaya vitamin B, vitamin C, karoten, dan komponen belerang terbukti efektif melancarkan aliran darah sekaligus menghindarkan pembekuan darah pada pengidap hipertensi. “Khasiat itu diperoleh dengan mengkonsumsi ekstrak 100 mg kucai, “ kata Lia Amalia.

Comments (0)
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Login

WhatsApp chat WhatsApp saya