Peluang Kebunkan Pisang

Peluang Kebunkan Pisang

Setiap pekan I Komang Dartika memanen rata-rata 50 tandan pisang hijau taiwan. Pekebun di Desa Pemuteran, Kecamatan Gerokgak, Kabupaten Buleleng, Provinsi Bali, itu menjual pisang kepada pengepul dengan harga Rp100.000 per tandan. Omzet Dartika Rp5-juta per pekan. Menurut Dartika harga jual itu sangat menguntungkan pekebun. Kini ia mengebunkan pisang di dua kebun. Luas kebun pertama 70 are atau 7.000 m². Di kebun itu terdapat 1.400 tanaman. Luas kebun lainnya 40 are atau 4.000 m² yang terdiri atas 800 tanaman.

Dartika menuturkan untuk membudidayakan pisang hijau taiwan di lahan 70 are sejak tanam hingga panen menghabiskan biaya produksi sekitar Rp60-juta. Setiap tanaman hanya menghasilkan satu tandan, maka biaya produksi untuk menghasilkan setandan pisang rata-rata Rp43.000. Artinya, dari setiap tandan Dartika meraup laba Rp57.000 atau 57% dari harga jual.

Organik
Dartika menuturkan biaya produksi relatif efisien karena ia membudidayakan pisang secara organik. Sebagai sumber nutrisi ia hanya memberikan pupuk kandang yang telah terurai. Pemberian pupuk juga tidak menentu. “Kalau pupuk kandang tersedia, baru saya memberi pupuk,” ujarnya. Pertumbuhan tanaman tetap optimal. Pisang hijau taiwan di kebun Dartika siap panen 10 bulan setelah tanam.

Menurut Dartika keuntungan berkebun pisang jauh lebih besar daripada hasil budidaya cabai keriting yang ditekuni sebelumnya. “Dari 4 musim tanam, saya belum sekali pun dapat untung,” tuturnya. Itulah sebabnya ia berhenti menanam Capsicum annuum. “Perawatan cabai sulit dan perlu biaya produksi tinggi,” ujarnya. Ia lalu mencari komoditas lain yang permintaan pasarnya tinggi dan menguntungkan.

Pada Januari 2015 sebuah perusahaan memberi bantuan 10.000 bibit pisang hijau taiwan kepada 3 kelompok tani dan ternak, yaitu Kelompok Tani Ternak Loka Sesana, Darma Sejati, dan Unggul Mulya. Sejak itulah Komang pun turut mengebunkan tanaman anggota famili Musaceae itu. Menurut Anang Setiobudi, penyuluh dari Dinas Pertanian Kabupaten Buleleng, pisang hijau taiwan kemungkinan hasil persilangan dengan salah satu tetuanya adalah cavendish. Pisang hijau taiwan adaptif dan mudah tumbuh meski perawatan tidak terlalu intensif. Kini Dartika berencana menambah luas areal tanam.

Permintaan tinggi
Anang menuturkan kini luas areal tanam pisang hijau taiwan di Kabupaten Buleleng mencapai 25 ha. Dartika mengatakan jumlah areal tanam itu belum memenuhi kebutuhan pasar. “Berapa pun hasil panen selalu terjual habis,” ujarnya. Menurut Anang pisang taiwan hijau disukai pasar karena manis dengan sedikit kesat. Kulit berwarna hijau cemerlang dan mulus sehingga cocok untuk disajikan sebagai buah meja.

Menurut I Nyoman Suma Artha, ketua umum Koperasi Tani Bali Jagadhita, kebutuhan pisang di Bali memang tinggi, terutama saat menjelang hari raya. “Dalam sehari bisa habis 10 truk,” ujarnya. Satu truk biasanya memuat 8 ton pisang atau total 80 ton pisang per hari. Jenis pisang yang diminta juga bermacam-macam, seperti pisang susu, raja, saba atau ambon, dan mas.

Menurut Suma Artha dalam dua tahun terakhir permintaan pisang meningkat. Salah satunya dari salah satu perusahaan pemasok buah-buahan terkemuka di Jakarta yang meminta pasokan pisang cavendish hingga 11 ton per pekan. Untuk memenuhi pasokan itu mereka bermitra dengan para pekebun di beberapa daerah di Bali, salah satunya dengan Koperasi Tani Bali Jagadhita yang dikelola Suma Artha.

Saat ini baru tahap uji coba dengan total luas areal tanam 12 ha. “Untuk membudidayakan pisang cavendish perlu perlakuan khusus. Pihak perusahaan ingin melihat dulu apakah hasil budidaya para pekebun itu memenuhi syarat atau belum,” ujarnya. Jika berhasil dan menguntungkan, maka pengembangan bisa mencapai 500 ha.

Menurut Citra Putriana dari Trans Retail Development Programme (TRDP) Carrefour, pisang adalah komoditas buah-buahan dengan tingkat penjualan paling tinggi hampir di semua gerai Carrefour. Dari aneka jenis pisang yang dijual, cavendish yang paling laris. Salah satu gerai Carrefour bisa menghabiskan rata-rata 130—150 kg cavendish per bulan.

Selama ini pasar cavendish di tanahair dikuasai oleh produk dari PT Nusantara Tropical Farm (NTF). Namun, menurut Rio Erlangga, pekebun pisang di Kabupaten Bogor, Jawa Barat, peluang pasar cavendish masih terbuka lebar, terutama untuk pasar ekspor. Saat ini Rio tengah menjajaki pasar ekspor ke Jeddah, Arab Saudi. “Jeddah membutuhkan pasokan hingga 8 kontainer berukuran 20 kaki per bulan,” ujar Rio saat menjadi pembicara dalam acara gelar wicara pada ajang Agrinesia 2016 di Sanur, Bali.

Kebutuhan cavendish dari Jeddah mencapai 156 ton per bulan. Rio menghitung untuk memenuhi kebutuhan pasokan itu secara kontinyu, maka perlu penanaman hingga 4,7 ha setiap bulan. Rio menuturkan permintaan tinggi tak hanya cavendish, tapi juga pisang mas kirana. Hingga Januari 2017 Rio sudah menanam hingga 21.000 tanaman mas kirana di Cianjur dan Sukabumi, keduanya di Jawa Barat. “Sekitar 3—4 bulan lagi panen,” ujarnya. Seluruh tanaman itu untuk memasok pasar lokal. “Jeddah juga mau coba minta mas kirana,” tambahnya.

Login

Select your currency
WhatsApp chat WhatsApp saya