Parade Liliput Cantik

Parade Liliput Cantik

Pohon cemara itu hanya setinggi betis. Sosok pendek seolah tanpa batang karena daunnya bak jarum sangat lebat dan memenuhi permukaan pot. Kehadiran cemara katai itu menarik perhatian pengunjung pameran tahunan di Distrik Suanluang, Kota Bangkok, Thailand. Penjaga stan On Nut 14, Nano Newpaya, menyusun cemara-cemara itu bertingkat sehingga mirip pagoda hijau.

Di belakang pagoda cemara itu, Nano menghadirkan cemara sejenis setinggi 1 m. Daunnya hanya tumbuh di puncak batang, lebat, dan menjuntai mencapai media tanam. Itulah sosok asli Casuarina glauca. Nama spesies, glauca pinjaman dari bahasa Latin bermakna sayu. Tanaman anggota famili Casuarinaceae itu berasal dari pantai timur Australia. Ahli Botani, Franz Wilhelm Sieber, mendeskripsikan tanaman itu pada 1826.

Masih langka
Penampilan Casuarina glauca mengingatkan pada topiari, tanaman yang dibentuk seperti bola. “Sosoknya jadi pendek bila diperbanyak dari cabang lateral,” kata Newpaya. Pebisnis tanaman hias di Jakarta, Ukai Saputra, melihat penampilan cemara itu dan sangat tertarik. Ia memboyong cemara itu 300 baht setara Rp120.000 per pot. Ukay lalu memangkas daun-daunnya dan membuang sebagian akar sehingga menyisakan bonggol.

Tujuannya agar mudah mengemas dan membawa tanaman ke Indonesia. Namun, cemara pendek itu mati setelah semua daun berwarna cokelat. Penggemar tanaman di Sawangan, Kota Depok, Jawa Barat, Chandra Gunawan, juga terpincut pada cemara itu. Sayangnya, sulit memelihara cemara itu. “Saya dua kali membawa, masing-masing 4 pohon. Sampai sekarang hanya satu pohon yang hidup,” kata Chandra.

Chandra memelihara cemara itu di Sawangan, Kota Depok dan Ciapus, Kabupaten Bogor. Sebuah pohon yang bertahan hidup itu tumbuh di Ciapus berketinggian 330 meter di atas permukaan laut (dpl). Suhu harian lebih dingin daripada di Sawangan (50 meter dpl). Menurut Ukai cemara itu menarik untuk taman, baik sebagai tanaman pot atau untuk tanaman gantung. Ia bisa menggantikan tanaman cenderawasih yang kerap tampil di tebing atau kolam di halaman.

Cemara itu dapat menggantikan peran cemara udang Casuarina equisetifolia yang dibentuk sebagai semibonsai. Cemara udang kerap merepotkan pemilik pohon karena pertumbuhan sangat cepat sehingga harus sering memangkas untuk menjaga bentuk. “Dengan menghadirkan cemara glauca pemilik taman tidak perlu repot memangkas percabangan,” kata Ukai. Menurut pebonsai Budi Sulistyo, pehobi belum pernah memanfaatkan glauca sebagai bahan bonsai.

Di alam Casuarina glauca tumbuh hingga 8—10 meter. Di habitat aslinya di Queensland, Australia, ketinggian tanaman mencapai 20 m tetapi sangat jarang. Oak rawa—sebutannya di sana—mempunyai percabangan yang bisa menjulur hingga 3 m. Bagian itulah yang dimanfaatkan sebagai bahan untuk membuat tanaman mini. Menurut Ghitarina Hasbi yang pernah bermukim di Townsville, Queensland, cemara itu kini banyak dimanfaatkan untuk memperindah halaman.

Kana dan helikonia

Selain cemara katai, pameran Suanluang juga menampilkan helikonia dan kana bersosok mungil. Tinggi helikonia berbunga itu hanya 20 cm. Lazimnya tinggi Heliconia psittacorum 40 cm. Karena sosoknya mini, pisang-pisangan itu menarik menghiasi meja kerja. Siraya Wannapat, mendapatkan helikonia mini itu dari temannya di Bangkok pada 2 tahun silam. Ia kemudian memperbanyaknya dengan pemisahan anakan.

Dalam 4—6 bulan, anakan sudah dewasa dan berbunga. Bila satu tanaman memiliki 3 anakan, ia memisahkan lagi dan menanam dalam pot. Wannapat menjual 50 baht setara Rp20.000 per pot untuk tanaman besar setinggi 40 cm dan 30 baht setara Rp12.000 untuk pot kecil. Ukai menduga asal-muasal pisang-pisangan mini itu tetap dari tanaman normal yang mengalami perlakuan penyemprotan zat untuk menghambat pertumbuhan tanaman.

Di Indonesia ada beberapa nurseri yang kerap memproduksi tanaman mini, yaitu PT Benara Nursery di Karawang dan Mandiri Jaya Flora di Bogor—keduanya di Provinsi Jawa Barat. Kreasi lain yang menarik ialah kana—lazim sebagai tanaman border di taman nan luas. Namun, kini kana tumbuh dalam ember penuh air. Kana berubah menjadi tanaman air yang cantik. Malah menjadi pemberi warna bagi kolam karena warnanya yang merah jambu berkuntum lebat.

Menurut pemilik The Art of the Garden, Gunawan Wijaya kana tidak lazim sebagai tanaman air. Rizoma atau bagian akar berpotensi busuk bila terendam di dalam air, terutama bila terdapat luka. Oleh karena itulah sebelumnya pehobi tak memanfaatkan kana sebagai tanaman air. Kehadiran kana air menyemarakkan dunia tanaman hias. Begitu juga cemara katai dan helikonia liliput.

Login

WhatsApp chat WhatsApp saya