Panen Tiram Lebih Cepat

Panen Tiram Lebih Cepat

Penambahan hormon mempercepat masa inokulasi jamur tiram dari 30 hari menjadi 25 hari.

Dudi Elam memanen jamur tiram lebih cepat, 40 hari sejak inokulasi. Padahal, semula pekebun di Desa Kedakajaya, Kecamatan Tanjungsari, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, itu panen perdana 46 hari setelah inokulasi. “Bagi saya percepatan itu sangat berarti karena saya lebih cepat memperoleh uang,” kata Dudi.

Percepatan 5 hari itu sejak Dudi memanfaatkan hormon tumbuh. Pekebun itu mengelola kumbung berukuran 405 m2 terdiri atas 25.000 baglog. Ia menginokulasi baglog dengan menambahkan satu sendok makan munjung bibit per baglog berbobot 1,4 kg. Pemberian hormon dilakukan pada saat pencampuran media tanam. Selama 30 hari miselium tumbuh memenuhi baglog. Pertumbuhannya begitu cepat sehingga ia panen lebih awal. Selain itu ia juga menyemprotkan hormon ketika kondisi dalam kumbung terlalu kering. Penyemprotan berfungsi untuk menjaga kelembapan dalam kumbung.

Terbukti cepat
Ahli jamur dari Pusat Penelitian Biologi, Dr Iwan Saskiawan, meriset penggunaan hormon pada budidaya jamur tiram pada 2014. Doktor Biologi alumnus Kyoto University itu menambahkan hormon sejak pembuatan baglog. Ia mencampur bahan baku baglog—terdiri atas gergaji, 15% dedak, 1% kapur, 1% gipsum, dan 4—5% tepung jagung. Iwan menambahkan larutan yang diklaim oleh pembuatnya mengandung hormon pertumbuhan jamur dengan konsentrasi 0,3%.

Ia lantas memasukkan campuran itu dalam plastik baglog berbobot 1,2 kg. Total jenderal terdapat 60 baglog yang diberi tambahan hormon. Adapun baglog tanpa hormon sebanyak 60 buah. Ukuran dan bobot baglog sama, yakni 1,2 kg. Iwan meletakkan baglog-baglog itu di sebuah kumbung yang sama di kumbung Pusat Penelitian Biologi LIPI, Cibinong, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Suhu, kelembapan, dan pencahayaan sama.

Selang 25 hari pascainokulasi, miselium memenuhi baglog yang diberi hormon. Sementara baglog tanpa hormon baru penuh lapisan miselium pada 28 hari pascainokulasi. Artinya baglog dengan campuran hormon miselium lebih cepat berkembang. “Di dalam dunia tumbuhan, hormon berfungsi mempercepat pertumbuhan sel sehingga tanaman tumbuh menjadi cepat. Hal tersebut diduga berlaku pada pertumbuhan miselia jamur,” kata Iwan.

Hormon yang digunakan oleh Dudi dan Iwan berbahan baku sama dan hasil racikan Pipin Apriatna di Kabupaten Subang. Jawa Barat. Kandungan hormon itu antara lain mikrob dan molase. Menurut Iwan Saskiawan hormon itu diduga berperan mempercepat pertumbuhan fase vegetatif atau pertumbuhan miselium jamur. Saat fase vegetatif jamur menumbuhkan miselium hingga memenuhi baglog. “Normalnya fase itu berlangsung 28 hari, tetapi dengan hormon hanya 23-25 hari,” kata Iwan. Meskipun demikian penelitian yang dilakukan Iwan belum memperhitungkan secara ekonomi penambahan larutan yang di klaim mengandung hormon tersebut diatas.

Pertumbuhan jamur sangat tergantung pada nutrisi yang tersedia di media. Media kayu serbuk gergaji mengandung senyawa lignoselulosa, selulosa, dan hemiselulosa. Sementara jamur tiram mempunyai enzim pengurai lignoselulosa yang berfungsi mengurai rantai panjang menjadi gula sederhana. Penambahan hormon menjadikan jamur tiram mampu mencerna kandungan gula dalam selulosa dan hemiselulosa lebih cepat. Menurut peneliti jamur di Balai Penelitian Tanaman Sayuran (Balitsa), Lembang, Bandung, Ir Diny Djuariah, mikrob dalam hormon membantu penguraian gula rantai panjang. “Hemiselulosa, selulosa, dan lignin tergolong gula rantai panjang. Gula itu baru bermanfaat untuk pertumbuhan jamur setelah bentuknya menjadi gula rantai pendek seperti glukosa atau silosa,” kata Diny.

Penguraian oleh hormon meningkatkan ketersediaan gula dalam media sehingga jamur semakin mudah dan semakin cepat menyerap. Menurut Pipin Apriatna hormon racikannya mengaktifkan pertumbuhan miselium yang tidak tumbuh maksimal sehingga seluruh baglog dapat menghasilkan jamur. Di kumbung Dudi miselium penuh pada hari ke 30 pascainokulasi atau panen perdana pada hari ke-40.

Sementara di kumbung Iwan Saskiawan, miselium menyebar penuh pada hari ke-26. Mengapa terjadi perbedaan? Menurut Ir NS Adiyuwono, praktikus jamur di Ciwidey, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, perbedaaan waktu lantaran pengaruh lingkungan antara lain kelembapan, suhu, cahaya, atau konsentrasi oksigen. “Pertumbuhan yang terlihat bagus di cawan petri atau lingkup kecil bisa berbeda setelah inokulasi di baglog,” kata Adiyuwono.

Salah satu hormon pertumbuhan yang tersedia di alam adalah air kelapa, yang mengandung auksin yang bersifat merangsang pertumbuhan. Pada fase generatif atau pembentukan badan jamur, 75—80% dipengaruhi oleh lingkungan. Menurut Iwan, pembentukan tubuh jamur bila terjadi stres nutrisi lantaran kandungan nutrisi dalam media tanam habis. Saat itu miselium membentuk tubuh jamur untuk memproduksi spora.

Menurut Adiyuwono pekebun perlu memperhatikan kandungan hormon pertumbuhan. “Jamur tiram bersifat saprofit, artinya menyerap bahan apa pun di media untuk tumbuh. Makanya media dan hormon harus bebas bahan berbahaya,” ujar Adiyuwono. Pasalnya, zat kimia berbahaya yang diserap jamur kemudian dikonsumsi manusia, bakal menyebabkan akumulasi dalam tubuh manusia.

Jika menggunakan bahan yang aman bagi kesehatan, maka kesempatan bagi pembudidaya jamur terbentang luas. Musababnya hormon pertumbuhan terbukti efektif memangkas waktu pengisian miselium  jamur tiram. Meski demikian menurut Pipin hormon bukan untuk meningkatkan nilai BER (biological efficiency ratio).

Iwan hanya menuai 400 gram dari baglog berbobot 1,2 kg. Demikian juga Dudi yang memanen total 400 gram dari sebuah baglog berbobot 1,4 kg. Niai rata-rata BER hanya 30-35%. Artinya, hormon tidak serta-merta meningkatkan produktivitas baglog, hanya mempercepat dan memperbaiki pertumbuhan.

 

Login

WhatsApp chat WhatsApp saya