Okra Rival Kanker

Okra Rival Kanker

Kanker salah satu penyebab kematian terbesar di dunia. Badan Kesehatan Dunia (WHO) mendata, pada 2015 sebanyak 9-juta orang di dunia meninggal akibat kanker. Jumlah pasien meninggal meningkat dari tahun-tahun sebelumnya. Pada 2012 International Agency for Research on Cancer (IARC) mencatat 8.201.575 jiwa meninggal akibat kanker. Dari jumlah itu, penyebab kematian tertinggi adalah jenis kanker paru dan payudara.

Sementara untuk kasus baru pasien kanker mencapai 14.067.894 jiwa. Di Indonesia prevalensi penderita kanker cukup besar. Riset Kesehatan Dasar, Kementerian Kesehatan Indonesia pada 2013 mencatat prevalensi penderita kanker di tanahair 1,4‰. Dari seluruh provinsi, Yogyakarta merupakan wilayah dengan prevalensi kanker tertinggi, yakni mencapai 4,1‰. Jumlah itu jauh lebih tinggi dibandingkan dengan angka nasional. Prevalensi tertinggi berikutnya Provinsi Jawa Tengah dan Bali, yaitu sebesar 2,1‰ dan 2,0‰.

Okra

Semakin banyaknya jumlah penderita kanker karena pola hidup yang tidak sehat. Dokter spesialis penyakit dalam di rumahsakit dr Sardjito, Yogyakarta, Prof Dr dr Nyoman Kertia SpPD-KR menjelaskan munculnya kanker di antaranya dari faktor keturunan dan faktor lingkungan. “Faktor keturunan bisa mencapai 40%,” tutur Nyoman. Sisanya faktor lingkungan yang mendukung terbentuknya radikal bebas dalam tubuh.

Faktor lingkungan dapat berasal dari polusi udara. Atau konsumsi makanan yang bersifat memicu kanker (karsinogenik). Oleh sebab itu agar terhindar dari serangan kanker, Nyoman menyarankan untuk menjalani pola hidup sehat. “Perbanyak makanan tinggi antioksidan seperti buah dan sayur,” ujarnya. Cara lain agar terhindar dari kanker dengan konsumsi okra.

Itu sejalan dengan hasil penelitian Md. Masud Rahaman Mollick dari University of Calcutta di India. Periset menguji okra sebagai antikanker secara praklinis. Ia memotong okra segar lalu mengubahnya menjadi bubur (pulp) yang dilarutkan dalam air. Setelah dua jam pulp dikeluarkan dan dilakukan sentrifugasi. Ektrak itu selanjutkan dicampur dengan larutan perak nitrat 1 mM.

Setelah proses pengadukan dan pengistirahatan ekstrak itu akan membentuk nanopartikel perak yang digunakan sebagai perlakuan uji coba. Nanopartikel yang dihasilkan berukuran diameter 6,7 nm. Dalam risetnya, Masud menggunakan sel jurkat (sel T limfoma) sebagai bahan uji sel kanker. Ia lalu membagi sampel dalam 6 grup. Setiap grup terdiri atas 6 cawan petri (2 x 104 sel).

Khasiat bunga
Kelompok pertama sebagai kontrol, tanpa perlakuan okra. Kelompok kedua, perlakuan ekstrak okra 1 µg/ml. Kelompok selanjutnya perlakuan okra 5 µg/ml, 10 µg/ml, 25 µg/ml, dan 50 µg/ml. Uji viabilitas sel dilakukan menggunakan metode MTT assay. Dari uji MTT assay diketahui jika ekstrak okra memiliki aktivitas antikanker. Konsentrasi ekstrak okra hingga 50 µg/ml menghasilkan penurunan viabilitas sel jurkat cukup signifikan.

Penurunan viabilitas (daya hidup) sel kanker terbesar pada konsentrasi 50 µg/ml yakni 91,6%, 25 µg/ml (85,4%), dan 10 µg/ml (52,6%). Bandingkan dengan kontrol—tanpa perlakuan okra—daya hidup sel jurkat 100%. Sebagai pengujian antikanker, dalam riset itu juga dihitung IC50 dari ektrak okra. Hasilnya nilai IC50 ekstrak okra 16,15 µg/ml. Itu artinya untuk membunuh 50% sel pada konsentrasi 16,15 µg/ml. Semakin kecil nilai IC50 semakin efektif herbal dalam menghalau penyakit.

Tidak hanya buahnya yang berkhasiat, bunga okra ternyata juga efektif mengatasi kanker hati. Itu dibuktikan S Solomon dari Departemen Kimia, Periyar University, India. Riset yang dipublikasikan dalam International Journal of Pharmacy and Biological Sciences itu menguji bunga okra secara praklinis. Dalam uji coba itu periset menggunakan sel kanker hati HePG-2.

Periset menggunakan ekstrak bunga okra konsentrasi 1.000 µg, 500 µg, 250 µg, 125 µg, dan 62,5 µg—semua per ml. Dari uji MTT assay terlihat keseluruhan ekstrak bunga okra memiliki aktivitas antikanker. Efek antikanker tertinggi terdapat pada konsentrasi 62,5 µg/ml dengan penghambatan 50% pertumbuhan sel konsentrasi 29,49 µg/ml, 500 µg/ml (57,28), 250 µg/ml (48,91), 125 µg/ml (34,86). Semakin kecil konsentrasi IC50 semakin besar pula kemampuannya menghambat sel kanker hati.

Antimikrob
Dalam risetnya Masud juga menguji kemampuan antimikrob dari ektrak okra. Periset menggunakan Bacillus subtilisBacillus cereusEscherichia coliMicrococcus luteus, dan Pseudomonas aeruginosa. Hasilnya ekstrak okra memiliki kemampuan menghambat bakteri. Lihat saja zona hambat M.luteus yang mencapai 40 mm, B.subtilis (33 mm), B.cereus (28 mm), P.aeruginosa (26 mm), dan E.coli (19 mm).

Menurut dr Prapti Utami di Kota Tangerang Selatan, Provinsi Banten, okra mengandung nutrisi tinggi, terutama senyawa antioksidan. “Cara kerja senyawa dalam okra bersifat merevitalisasi,” jelas dokter alumnus kedokteran Universitas Diponegoro Semarang itu. Merevitalisasi dalam hal ini mencakup memperbaiki, menambah, dan melengkapi yang kurang dalam tubuh.

Dengan begitu kondisi organ tubuh akan membaik. Namun yang berperan utama dalam menyembuhkan penyakit adalah bahan yang mampu menetralkan oksigen reaktif dalam tubuh. Sehingga, “Okra hanya membantu kesembuhan, bukan bahan penyembuh utama,” kata Prapti. Bagi herbalis di tanahair okra bukanlah herbal anyar. Prapti Utami misalnya, sudah mengenal okra sejak 2005.

Herbalis di Kelapagading, Jakarta Utara, Maria Andjarwati pun demikian. Untuk mengonsumsi Abelmoschus esculentus itu tidaklah sulit. Cara paling mudah dengan merebusnya. Ambil 5—6 buah okra, kemudian rebus bersamaan dengan dua gelas air hingga mendidih. Air rebusan itu dikonsumsi sehari dua kali. Selain dalam bentuk rebusan, okra juga dapat dinikmati sebagai sayuran. Caranya dengan mengolah buah anggota Malvaceae itu menjadi sayur bening.

Login

Select your currency
WhatsApp chat WhatsApp saya