Naga Manis Lahan Gambut

Naga Manis Lahan Gambut

Stan milik Jeffry Budiman pada ajang pameran Fruit Indonesia 2016 di parkir timur Senayan, Jakarta, itu mengundang perhatian Presiden Joko Widodo. Ia bersama Menteri Koordinator Pereknomonian, Dr Darmin Nasution, dan Menteri Pertanian, Dr Ir Andi Amran Sulaiman MP, singgah ke stan milik Jeffry. Presiden tertarik dengan buah naga berdaging merah yang terpajang di stan itu.

Pasalnya, buah naga organik itu hasil panen di lahan gambut yang selama ini dianggap tidak sesuai untuk bercocok tanam. Lahan gambut kini tengah menjadi perhatian presiden. Pada 2016 presiden mengeluarkan Peraturan Presiden Republik Indonesia nomor 1 Tahun 2016 tentang Badan Restorasi Gambut. Badan itu bertugas melaksanakan percepatan pemulihan kawasan dan pengembalian fungsi hidrologis gambut akibat kebakaran hutan.

Lebih manis
Jeffry mengebunkan buah naga di 6 hektare lahan gambut di Desa Gohong, Kecamatan Kahayanhilir, Kabupaten Pulangpisau, Kalimantan Tengah. Total populasi 6.000 tiang. Sebuah tiang terdiri atas 4 tanaman. Dari luasan itu baru 3 ha yang berproduksi. Pria yang juga pengusaha bidang pariwisata itu memanen rata-rata 200 kg buah naga daging merah setiap pekan. Ia menjual hasil panen ke Jakarta dan Bali dengan harga Rp60.000 per kg.

“Harga itu sudah termasuk ongkos kirim untuk area Jakarta pembelian minimal 10 kg,” ujar ayah 2 anak itu. Harga jual itu tergolong premium. Meski begitu buah naga organik produksi Jeffry tetap laris manis. Itu karena buah naga itu terbukti berkualitas prima. Hasil uji di laboratorium Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika di Solok, Sumatera Barat, buah naga organik dari kebun Jeffry lebih manis.

Hasil pengujian menggunakan refraktrometer, tingkat kemanisan buah naga mencapai 16° briks. Itu lebih manis dari Hylocereus polyrhizusdan H. costaricensis konvensional yang hanya 13—15° briks. Hasil pengukuran spektrofotometer menunjukkan kadar gula total buah naga produksi Borneo Mekar Wangi (BMW), farm milik Jeffry, mencapai 15,86%. Keistimewaan lain kadar vitamin C juga lebih tinggi, yakni mencapai 12,49 mg/100 g.

Kadar itu lebih tinggi ketimbang hasil uji kandungan nutrisi buah naga daging merah yang dirilis Taiwan Food Industry Development & Research Authorities yang hanya 8—9 mg/100 g. Para fasilitator program Generasi Sehat dan Cerdas (GSC) dari Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi mengakui manisnya buah naga organik itu. Mereka berkunjung ke kebun Jeffry pada Desember 2016.

“Rasa buahnya manis dan membuat ketagihan untuk selalu disuap ke mulut,” ujar Jawahir, seorang fasilitator. Para fasilitator GSC berencana meniru Jeffry berkebun di lahan gambut untuk ketersediaan bahan pangan berkualitas. Jeffry mulai membudidayakan buah naga di lahan gambut pada 2012. Ketika itu lahan gambut yang ia beli hanya dihuni semak belukar. Warga sekitar enggan memanfaatkan lahan bekas kebakaran itu karena dianggap tidak sesuai untuk berkebun.

Login

Select your currency
WhatsApp chat WhatsApp saya