Musuh Anyar Asam Urat

Musuh Anyar Asam Urat

Ferdy—yang bersangkutan minta namanya disamarkan—bagai makan buah simalakama. Saat ia menemani relasi bisnis, terhidang beragam penganan yang mengandung jeroan sapi. Sebagai penghormatan kepada tamu, ia mestinya menyantap makanan lezat itu. Namun, di sisi lain ia tahu akibat yang akan dia rasakan di beberapa bagian tubuhnya. Benar saja, beberapa jam setelah santap bersama itu, nyeri luar biasa menyerang sendi pergelangan dan lutut kaki kirinya.

Pria yang bekerja sebagai anggota staf hubungan masyarakat perusahaan percetakan itu harus menyeret kaki kirinya saat berjalan dari ruang tamu menuju kamar tidur. Jarak 10 meter dirasa sangat jauh dan menyakitkan. “Seperti tertusuk duri di dalam persendian saat lutut dan pergelangan kaki dipakai berjalan,” ujar Ferdy. Dengan bantuan istrinya, pria berumur 43 tahun itu berjalan perlahan ke ruang makan untuk sarapan pagi.

Gagal ginjal
Asam urat merupakan sisa metabolisme pada zat purin yang berasal dari makanan yang dikonsumsi. Purin adalah zat alami yang ditemukan pada semua sel-sel tubuh dan terdapat dalam setiap bahan makanan. Tubuh manusia akan memetabolisme purin dan mengubah menjadi asam urat. Dalam kondisi normal, tubuh membuang asam urat sisa metabolisme melalui urine.

Konsentrasi asam urat yang berlebihan dalam tubuh menyebabkan ginjal bekerja ekstrakeras mengeluarkannya melalui air kemih. Asam urat yang gagal dikeluarkan dari tubuh akan berkumpul di persendian. Penumpukan asam urat dalam jangka panjang membentuk kristal di jaringan ikat atau ruang antara dua tulang. Akibatnya muncul gejala peradangan dengan gejala pembengkakan.

Kadar asam urat normal pada pria berkisar 3,5—7 mg/dl dan pada wanita 2,6 – 8 mg/dl. Menurut Dr Rulli M.A.Roesli, SpPD-KGH, ahli ginjal dari Rumah Sakit Khusus Ginjal (RSKG) Ny. RA Habibie, Bandung, asam urat yang tidak segera diobati berkembang menjadi penyakit yang lebih berat. “Batu ginjal dan bahkan gagal ginjal dapat terjadi akibat keterlambatan penanganan penyakit asam urat,” kata mantan Ketua Perhimpunan Hipertensi Indonesia.

Pada umumnya dokter meresepkan obat berbahan aktif allopurinol untuk mengurangi derita asam urat.
Namun, penggunaan allopurinol dalam jangka panjang dapat memberikan efek negatif bagi tubuh. Sebagian pengonsumsi mengalami alergi berupa kemerahan di kulit. Efek lebih parah menyebabkan demam, menggigil, jumlah sel darah putih meningkat di atas nilai normal, dan kadar eusinofil di dalam darah meningkat.

Kulit kacang
Adanya efek samping itu menyebabkan para peneliti berusaha mencari obat penyakit asam urat berbahan alami. Tujuannya adalah meminimalkan efek samping yang muncul pada penggunaan jangka panjang. Ferdy berupaya menghindari efek samping itu dan memilih mengonsumsi air rebusan kulit kacang tanah. Ia meminum segelas air berwarna kekuningan itu 3 kali sehari.

“Kata istri saya, itu obat asam urat berbahan rebusan kulit kacang tanah. Ia diberitahu tetangga setelah menceritakan kondisi saya lewat telepon,” kata Ferdy. Setengah jam usai mengonsumsi air rebusan itu ia beranjak menuju teras rumahnya. Secara refleks Ferdy menapakkan kaki dan mencoba berjalan. Terkejutlah ia saat menyadari nyeri sendi yang menyiksa banyak berkurang. Tanpa bantuan orang lain, ia dapat berjalan lebih cepat.

Masyarakat di beberapa daerah di Jawa Tengah mengenal keampuhan rebusan kulit kacang tanah mengatasi derita asam urat ringan. Hai ini perlu dibuktikan secara ilmiah guna memudahkan penderita asam urat mengatasi penyakitnya. D. J. Daigle, dari National Peanut Research Laboratory, Georgia, Amerika Serikat, menyatakan kulit luar kacang tanah Arachis hypogaea yang matang mengandung banyak luteolin.

Menurut Daigle luteolin menghambat pembentukan senyawa asam urat karena kemampuannya dalam menghambat aktivitas enzim xantin oksidase. Enzim xantin oksidase adalah zat yang mengubah xantin dan hipoxantin menjadi asam urat. Mengacu pada hal itu Listiyana Candra Dewi, Subandi, dan Suharti dari Jurusan Kimia Universitas Negeri Malang meneliti khasiat kulit kacang tanah terhadap aktivitas enzim xantin oksidase.

Kulit 216 gram
Para peneliti itu menggunakan kulit kacang tanah untuk menguji kemampuan zat aktif flavonoid dalam menghambat pembentukan asam urat. Bentuk bahan penelitian di laboratorium berupa ekstrak yang diperoleh dengan cara merendam serbuk kering kulit luar kacang tanah dalam etanol 70% selama 6 jam. Kemampuan ekstrak sebagai inhibitor atau penghambat pembentukan senyawa asam urat tampak setelah penambahkan pada enzim xantin oksidase.

Aktivitas enzim semula 0,0011 unit/ml berkurang menjadi 0,0004 unit/ml setelah mendapat ekstrak kulit kacang tanah 100 ppm sebagai inhibitor. Itu berarti ekstrak kulit kacang tanah mempunyai kemampuan menghambat pembentukan asam urat 63,64%. Senyawa dalam ekstrak kulit luar kacang tanah penghambat aktivitas enzim xantin oksidase berasal dari golongan flavonoid.

Namun, hanya flavonoid yang memiliki ikatan rangkap pada atom C2 (memiliki dua karbon) dan C3 yang memiliki kemampuan berperan sebagai inhibitor. Penelitian berlanjut dengan mengetahui kesetaraan daya inhibisi ekstrak terhadap allopurinol. Allopurinol adalah obat farmasi pabrikan yang biasa diresepkan dokter dengan cara menurunkan kadar asam urat dalam darah.

Perhitungan kesetaraan daya inhibisi ekstrak terhadap 1 tablet allopurinol bertujuan untuk mengetahui perkiraan massa ekstrak atau kulit kacang tanah yang diperlukan agar daya inhibisinya sebanding dengan 1 tablet allopurinol. Hasil pengujian menunjukkan 216,46 g kulit kacang tanah memiliki daya inhibisi sebanding dengan 1 tablet allopurinol.

Herbalis di Bogor, Jawa Barat, Valentina Indrajati mengetahui khasiat rebusan kulit kacang kulit kacang tanah untuk mengatasi asam urat. Untuk penyakit itu ia biasa meresepkan ramuan berbahan utama sidaguri, serai, daun dewa, jati belanda, dan daun pecut kuda. Khasiat kacang tanah terbukti setara produk farmasi pabrikan. Sebuah fakta menarik tentang kacang tanah sebagai pemicu asam urat, tapi rebusan kulitnya berkhasiat obat penyakit itu.

Login

WhatsApp chat WhatsApp saya