Laba dari Kedelai Jepang

Laba dari Kedelai Jepang

Menjadi sarjana lalu bertani? Kedua orangtua menolak keputusan Bramantyo Rinadhi yang kini menanam edamame di lahan 3 ha. Alasannya risiko bertani sangat besar karena kerugian selalu mengintai.
“Kedua orang tua saya pernah bertani dan merugi. Mereka tidak ingin saya mengalami itu,” kata  Bramantyo. Sebelumnya ayahnya petani aneka sayuran di Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Provinsi  Jawa Barat.

Itulah sebabnya mereka lebih senang Bramantyo menjadi pekerja kantoran seperti karyawan swasta atau  pegawai negeri sipil. keputusan pria kelahiran 9 November 1987 itu menanam edamame telah bulat.  Pada April 2011 anak ke-2 bersaudara itu membudidayakan di lahan 980 m2. Sayang, cendawan  Phytophthora dan ulat grayak menyerang tanaman berumur 60 hari. Terdapat bercak hitam pada daun dan  buah, serta daun berlubang. Pada panen perdana itu ia hanya menuai 200 kg polong.

Harga naik
Meski gagal pada penanaman pertama, Bramantyo tak jera. Ia justru memperluas penanaman kedua hingga  2.800 m2 pada penanaman kedua. Alasannya prospek edamame memang cerah. Ia juga menyadari kegagalan menanam perdana karena belum menguasai sepenuhnya cara budidaya edamame. Keputusan Bramantyo terjun  langsung ke lahan karena ingin mengetahui kesulitan budidaya di lapang. Harapannya ia dapat menilai  kinerja petugas kebun dan memperbaiki teknik budidaya sehingga berproduksi maksimal.

Pada penanaman kedua itu ia sukses menuai total 400 kg polong. Saat itu, pada Oktober 2011 harga  satu kilogram polong segar edamame mencapai Rp8.500 sehingga omzetnya Rp3,4-juta. Orang tua mulai  merestui keputusan Bramantyo menjadi petani sejak ia mendirikan gudang berukuran 10 m x 6 m selang  6 bulan setelah penanaman edamame. “Orang tua menilai usaha saya mulai berkembang dengan baik,”  katanya. Kini ia mengebunkan hingga 3 ha edamame. Menurut pemuda 27 tahun itu satu kilogram benih  idealnya menghasilkan 20 kg polong.

Omzet Bramantyo Rinadhi mencapai Rp60-juta hasil perniagaan 30 ton edamame segar setiap bulan. Kini kapasitas produksi edamame milik Bramantyo 1—1,5 ton per hari. Itulah sebabnya ia bermitra dengan  pekebun lain untuk melayani permintaan konsumen. “Permintaan edamame yang datang ke tempat saya  bisa mencapai 5 ton per hari,” kata pria berumur 27 tahun itu. Pasokan edamame tidak hanya berasal  dari kebun pribadi Bramantyo. Sejak 2014 ia menjalin mitra dengan petani sekitar.

Semula petani enggan menanam vegetable soybean. Harap mafhum saat itu edamame komoditas baru di  wilayah Bandung Barat. Ia pun memutar otak agar petani menanam edamame. Ia mengajak dan membiayai  tokoh petani di suatu wilayah agar menanam edamame. ”Jika tokoh petani sudah menanam edamame dan  hasilnya bagus maka petani lain mudah diajak bergabung,” kata pekebun edamame sejak 2011 itu.

Kini 40 petani mitra dan 13 kelompok tani yang tersebar di sekitar Cisarua, Kabupaten Bandung  Barat, Jawa Barat, membudidayakan edamame. Total lahan edamame yang dikelola Bramantyo mencapai 80  ha, termasuk 3 ha lahan milik pribadi. Agar kontinuitas panen terjaga ia menanam 100 kg edamame di lahan 1 ha milik petani mitra setiap pekan.

Permintaan besar
Bramantyo juga menargetkan pembukaan 1 ha lahan baru setiap bulan. Bramantyo juga menerima kerja sama saling menguntungkan dengan pekebun lain. Saat ini ada tawaran pembukaan 10 ha lahan edamame di Kabupaten Garut, Jawa Barat. Alumnus Universitas Bandung Raya itu memasarkan edamame hasil bermitra dan panen di lahan sendiri ke konsumen di Bandung dan Jakarta.

“Konsumen saya meliputi pembeli langsung, distributor, dan pasar swalayan,” kata pekebun di Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, itu. Ia tertarik menanam kedelai jepang karena permintaan pasar tinggi, harga cenderung naik, dan pekebun yang membudidayakan terbatas. Musababnya ketersediaan benih edamame Glycine max masih terbatas.

Benih agak sulit menjelang hari raya seperti Idul Fitri dan musim hujan pada November dan Desember.  Ia mendapatkan benih dari pemasok di Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat, Jember (Jawa Timur), dan Banten. Bramantyo membeli benih 2 kali dalam sepekan masing-masing 100—200 kg. Jenis edamame yang yang ia kembangkan ryoko yang potensi produksinya mencapai 7 ton per ha.

Penanaman dan pemanenan edamame sudah terjadwal sehingga jumlah produksi terpantau. Untuk memastikan semua berjalan lancar, Bramantyo kerap mengunjungi langsung lokasi pekebun mitra. Setiap hari pukul 07.00—12.00 ia mengunjungi pekebun yang tanamannya siap panen. “Saya mengunjungi kebun edamame yang 5 hari lagi siap dipanen. Tujuannya untuk memperkirakan hasil panen sehingga konsumen segera mengetahui kapasitas produksi saya saat itu,” tutur Bramantyo.

Selanjutnya pada pukul 13.00—17.00 ia berada di gudang. Di tempat berukuran 10 m x 6 m itu ia membuat bukti penerimaan edamame dari pekebun mitra. Pembayaran kepada petani mitra sepekan kemudian. Ia membeli edamame dari petani seharga Rp10.000 per kg. Saat ini sebagian besar pengelolaan bisnis edamame masih dilakoni Bramantyo sendiri. Rencananya ia juga ingin mendelegasikan beberapa pekerjaan ke orang lain.

Login

Dapatkan GRATIS ongkir untuk tujuan pengiriman pulau Jawa dengan pembelian minimum Rp 300,000 Tutup

Contact Person WhatsApp saya