Jasa Wijen Lindungi Tebu

Jasa Wijen Lindungi Tebu

Uret gayas menurunkan produksi tebu 50%. Solusinya tumpangsari dengan wijen.

Lima tahun terakhir serangan uret gayas Lepidiota stigma kian mengganas. Hama utama tebu itu menyukai lahan yang dominan pasir berdebu. Akibat serangan gayas, tingkat kehilangan hasil mencapai 50%. Fase yang paling membahayakan memang saat menjadi uret. Ketika itu uret atau larva menggerogoti akar tebu menyebabkan tanaman kering atau rebah. Celakanya mengendalikan gayas juga sulit karena bersembunyi di bawah permukaan tanah. Larva gayas paling tak tahan sinar matahari.

Itulah sebabnya pekebun melakukan berbagai upaya untuk mengatasi serangannya. Namun, gayas seperti kebal sehingga menyebabkan pekebun frustrasi.

Populasi turun
Pekebun di Desa Sambirejo, Kecamatan Pare, Kediri, Sutarno tetap menanam tebu meski serangan uret mengganas. Ia menumpangsarikan tebu dengan wijen pada awal tanam. Penanaman wijen dan tebu berbarengan. Ia menanam wijen di sela-sela tebu.Tumpangsari itu tak akan menurunkan produktivitas tebu, rata-rata 90 to nper ha. Sebab, masa generatif tebu baru pada bulan keenam. Sementara petani memanen wijen pada bulan ketiga atau keempat.

Sutarno memanen wijen berumur tiga bulan. Selain itu wijen mampu menekan serangan uret. “Serangan uret terjadi saban tahun. Dahulu kita pakai insektisida tapi hingga saat ini masih belum terselesaikan,” kata Sutarno. Serangan uret makin merajalela terutama di lahan-lahan keprasan. Di lahan itu stadia larva bisa dijumpai sepanjang tahun.

Lazimnya larva instar 1 muncul pada Desember—Februari dan berkembang menjadi instar 2 pada Februari—Maret. Larva instar 3 muncul pada April—Juni dan larva instar 4 pada Juni—Juli. Adapun stadia prapupa terjadi pada Juli—Agustus dan stadia pupa pada Agustus—Oktober. Imago atau serangga dewasa muncul pada Oktober—Desember. Yang mengkhawatirkan siklus uret tidak pernah putus sepanjang tahun.

Berkat tumpangsari dengan wijen, intensitas serangan dan populasi uret lebih rendah, terutama pada fase ampal atau imago. Para petani di Yogyakarta juga menerapkan sistem tumpangsari wijen di lahan tebu. Mengapa wijen menurunkan serangan uret tebu? Secara alami perakaran wijen bersimbiosis dengan cendawan mikoriza. Tanaman anggota famili Pedaliaceae itu berakar tunggang dan memiliki banyak akar cabang yang bersimbiosis dengan mikoriza vesikular-arbuskular.

Simbiosis itu memberi keuntungan, karena mikoriza itu memudahkan perakaran wijen memperoleh air dan hara dari tanah. Mikoriza yang menempel di ujung perakaran menghasilkan perbanyakan spora. Saat petani memanen wijen, akar yang tertingga akan berserakan di dalam tanah, menguntungkan perakaran tebu. Terjadinya infeksi perakaran tebu oleh mikoriza, secara alami akan meningkatkan ketersediaan hara dan air bagi tebu. Jika muncul serangan uret, mikoriza mampu memulihkan struktur perakaran tebu.

Parasitoid
Setelah panen petani membiarkan batang Sesamum indicum hingga mengering di lahan sebagai pupuk kompos hijau. Batang, daun, dan bagian lainnya tanaman wijen bermanfaat sebagai biomassa. Jumlahnya 80% dari total bahan organik dalam tanah. Tumpang sari tebu-wijen memang sangat cocok. Wijen adaptif di lahan kering, berpasir, dan beriklim kering. Itu berkorelasi positif karena sebagian besar lahan budidaya tebu banyak di lahan kering dan berpasir.

Biji wijen penghasil minyak nabati untuk aneka industri, seperti industri makanan, kosmetik, dan farmasi. Biasanya untuk pemeliharaan serta pemupukan mengikuti tanaman pokoknya yaitu tebu sehingga biaya bisa ditekan. Saat berbunga, banyak kupu-kupu, kumbang, serta lebah penyerbuk mengunjungi tanaman wijen. Selain mendapatkan serbuk sari, khususnya lebah Campsomeris sp dalam jumlah ribuan sebagai parasitoid uret tebu. Begitu juga dengan sejenis lalat Procena masicera yang tertarik pada bunga wijen.

Login

WhatsApp chat WhatsApp saya