Jambu Madu Tinggi Mutu

Jambu Madu Tinggi Mutu

Kunci agar jambu air madu deli hijau bertahan lama di pasaran adalah kualitas buah yang prima. Ahli manajemen pemasaran dari Institut Pertanian Bogor, Dr Ir Arief Daryanto, menuturkan, bila para pekebun mampu menjaga kualitas pasar akan merespons dan sebaliknya. Kriteria jambu madu berkualitas tinggi jika tingkat kemanisan minimal 10,5° briks, bentuk seperti lonceng atau tanpa malformasi, warna hijau segar, atau kemerahan dan tanpa gerekan serangga atau bekas penyakit.

Pekebun menempuh banyak cara untuk menghasilkan buah berkualitas tinggi. Pekebun di Kabupaten Bantul Yogyakarta, Bayu Ari Sidi, menyiapkannya sejak memperoleh bibit. Ia terlebih dahulu menanamnya di tanah, tidak langsung di pot seperti dilakukan pekebun lain. Tujuannya agar batang cepat besar. “Dengan ditanam di tanah terlebih dahulu, periode berbuahnya memang tertunda, tetapi batangnya jadi besar.

Media khusus
“Batang besar akan kuat menopang buah yang lebat,” kata pemilik 2.000 pohon jambu madu deli hijau itu. Program selanjutnya ialah membentuk percabangan tipe 1-3-9, atau 1-3-7. Bayu baru memindahkan pohon ke kantong tanam 3—5 bulan kemudian. Isto Suwarno menempuh cara serupa. Pekebun di Kabupaten Klaten, Provinsi Jawa Tengah, itu memilih media campuran: tanah di bawah pohon bambu, sekam di bawah kandang ayam, pupuk kandang kambing ettawa, dan dolomit.

Perbandingannya tanah 2 bagian, sekam 1 bagian, pupuk kandang 1 bagian, dan dolomit secukupnya. “Saya memilih media tanam yang berkualitas agar pertumbuhan tanaman optimal,” ujar Isto yang mengebunkan 1.000 pohon. Ia tak serta-merta menggunakan media tanam itu, tetapi mengaduk hingga rata kemudian menyiram hingga lembap, lalu menutup dengan terpal.

Pekebun jambu madu sejak 2013 itu membiarkan media itu terfermentsi selama sebulan hingga siap pakai. Pada awalnya Isto mengisi kantong tanam dengan media itu hanya sepertiga bagian. Sebab, ia memberi pupuk susulan setiap 3 bulan sebanyak 3—5 genggam per tanaman. Kebanyakan pekebun menggunakan pupuk kotoran hewan. Kotoran puyuh dan guano mengandung fosfat tinggi. “Unsur fosfat dibutuhkan agar jambu madu lebih produktif,” ujar Isto.

Bahkan pupuk kandang pun masih ditambahkan setiap dua pekan sebanyak 300 gram—an per pohon. Pekebun lain, Hasrizal, menggunakan pupuk organik berbahan kotoran ayam sebanyak 5 kg per tanaman, terutama saat berbunga dan berbuah. Meski demikian, pemupukan dengan zat kimia tetap diberikan.

Pekebun memberikan pupuk NPK dengan nitrogen tinggi hingga tanaman berumur 5—6 bulan dengan dosis 1 sendok teh setiap 2 pekan. Atau 1 sendok makan pupuk mutiara 25-7-7. Setelah tanaman remaja, pekebun memberikan pupuk berimbang 16-16-16. Setelah 9—10 bulan, pohon mulai berbunga. Saat belum mekar, seleksi bunga dengan membuang setiap bunga di tengah.

Dua pekan setelah bunga mekar, bungkus bakal buah dengan plastik putih. Seleksi buah harus tetap dilanjutkan. Hingga pada akhirnya hanya tersisa 4—6 buah per dompolan. Untuk menambah kemanisan buah, perlu pemangkasan ranting dan sebagian daun. Dengan demikian batang, cabang, dan buah tetap dapat berfotosintesis. Pemangkasan ringan dilakukan tiap bulan sekali, sedangkan pemangkasan berat dilakukan sebulan sekali khususnya pascapanen.

Perawatan saat berbuah
Saat pembungaan, maka faktor terpenting untuk menjadikan bunga manis ialah penyiraman. Lakukan penyiraman tiap pagi dan sore. Bahkan bila panas terik pada siang hari maka tanaman harus disiram. Karena pentingnya pemberian air sehingga banyak pekebun menyiapkan jaringan irigasi sebelum menata pohon. Ada yang memanfaatkan pipa polivinil klorida (PVC) beserta kran, atau menggunakan selang plastik hitam atau bening untuk mengalirkan air ke wadah tanam.

Setiap tanaman mendapat air sekitar 6 liter. Dengan perawatan intensif, pekebun memetik 4 kg pada panen perdana per musim. Setelah berumur 3 tahun, jambu menghasilkan 10—15 kg per tanaman per musim secara stabil.

Login

Dapatkan GRATIS ongkir untuk tujuan pengiriman pulau Jawa dengan pembelian minimum Rp 300,000 Tutup

Contact Person WhatsApp saya