Gagal Ginjal Bertahan Karena Ciplukan

Di kamar 3m x 3m Erwan Sunarwan tergolek lemah. Semua organ tubuh hampir tak bisa digerakkan. Hanya sesekali matanya yang sayu mengerling ke sisi tempat tidur. Di sana istri dan anaknya selalu menunggu dengan perasaan iba. Betapa tidak, sejak 3 bulan lalu tak secuil makanan masuk. Perut Erwan langsung begah kala sesuap nasi dipaksa melewati kerongkongan. Itu akibat ginjal pria kelahiran 16 Februari 1933 hancur. Ia harus cuci darah 2 kali seminggu jika ingin bertahan hidup.

Itulah kenangan Erwan di awal 1995 yang tak pernah pupus dari ingatan. “Pada waktu itu, siapa pun yang menengok memvonis saya tak ada harapan untuk hidup lebih lama. Termasuk isyarat dokter yang rutin memeriksa. Sekarang saya seakan hidup kembali,” ujar ayah 6 putra ketika ditemui Steve. Namun, rebusan daun ciplukan Physalis peruvianamenjungkirbalikkan prediksi banyak orang.

Di kediamannya di Sarajaya, Sindanglaut, Cirebon, Erwan tampak segar bugar. Ia tidak hanya bisa menjalankan aktivitas sehari-hari mengelola penggilingan padi, tapi juga berpergian jauh. Kota kelahirannya Kuningan, yang berjarak ratusan kilometer dari Sindanglaut acapkali ditempuh dengan berkendaraan umum. “Seratus persen sehat, Cuma karena usia tua, ketika berjalan tidak segesit waktu muda,” kelakar Erwan.

Semangka

Musibah yang menimpa lelaki bertinggi tubuh 170 cm itu berawal di suatu siang yang terik. Semangka berdagang merah menyala yang dijajakan di pasar menggoda untuk dimakan. Habis beberapa iris, ia lalu menyeruput teh manis. Namun, apa lacur, kenikmatan yang dibayangkan justru berbuah petaka. Perut Erwan langsung kembung. “Perut menggembung seperti balon. Saking besarnya, kulit perut tampak mengkilap,” tutur Erwan.

Keluarga Erwan lalu membawanya ke rumah sakit di Cigugur, Kuningan. Selama 21 hari ia berbaring sambil merasakan sakit yang tak tertahankan. Merasa tak ada kemajuan, penggemar bulu tangkas itu meminta pindah ke rumah sakit Budi Luhur di kota yang sama. Setali tiga uang, penyakit Erwan tak kunjung reda, malah semakin parah. Hanya 4 hari ia bertahan di sana, sebelum diboyong ke rumah sakit Ciremai di Cirebon.

Dokter Iwan Gunawan yang memeriksa mengatakan kedua ginjal Erwan tak berfungsi karena hancur. Akibatnya penderita mengalami keracunan urea. Jalan satu-satunya rutin cuci darah dan cangkok ginjal. “Kadar ureum dan creatinin saya sangat tinggi, masing-masing 224,7 mg% dan 7,087 mg%,” ujar Erwan sambil menunjukkan berkas pemeriksaan. Kadar ureum normal 10-50 mg% dan creatinin 0,7-1,2 mg% untuk pria, serta 0,5-1 mg% untuk wanita.

“Saya rasakan dari mulut keluar bau busuk yang menyengat. Sampai jarak 2 m masih tercium,” paparnya. Itu sebabnya setelah 2 bulan di rumah sakit Ciremai, Erwan disuruh pulang. Waktu itu bobot badan melorot drastis, dari 84 kg tinggal 52 kg. dalam pikiran Erwan, pasti dokter tidak bisa menolong lagi.

Telur Ayam

Sepulang dari rumah sakit, Erwan berobat jalan. Termasuk cuci darah 3 kali dalam 3 bulan. “Cuci darah harus rutin, tapi tak ada jaminan sembuh,” tuturnya. Karena biaya terbatas, akhirnya Erwan bersandar pada pengobatan alternatif.

Kebetulan ia memperoleh informasi di Jetis, Purbalingga, Jawa Tengah, ada ahli pengobatan supranatural. Dengan dipapah Erwan menyambangi pengobat itu. Sebutir telur ayam kampung yang dijampi-jampi diberikannya. “Setelah kuning telur saya minum, badan terasa segar dan makan pun lahap hingga habis 2 piring,” papar Erwan.

Sayang, selang 1 bulan penyakit Erwan kambuh. Untuk kembali ke Jetis tak mungkin, karena sang pengobat meninggal dunia. Aktivitas Erwan kembali tidur dan tidur. Tiga bulan di pembaringan ia mulai berpikir untuk memanfaatkan tanaman di sekitar rumah. “Siapa tahu berjodoh, saya minta direbuskan ciplukan kepada istri,” kenang Erwan.

Kenapa dipilih ciplukan? Ketika kecil orang tuanya sering menggunakan air rebusan daun ciplukan sebagai diuretik. Selain itu, tetangganya banyak menggunakan cecendet sebutan di Kuningan untuk mengendalikan diabetes mellitus. Toh, ciplukan bisa dengan mudah didapat.

Turun Drastis

Lima batang ciplukan dicabut. Tanah yang menempel dibersihkan, lalu dijemur. Setelah kering, dipotong-potong sepanjang 10 cm. Simplisia itu dicuci kembali sebelum direbus. Idoh, istri Erwan merebusnya dalam kendil kuali dari tanah liat.

Kendil berdiameter 20 cm diisi penuh rajangan ciplukan kering. Segayung air atau 4 gelas dikucurkan. “Kadang saya tambahkan segenggam sambiloto,” kata Idoh. Sambiloto untuk menurunkan hipertensi Erwan yang sewaktu-waktu tinggi. Dengan api kecil di atas kompor, air rebusan dibiarkan mendidih dan tersisa 2 gelas. Saring dengan penyaring the dan diminum saat hangat kuku.

Air rebusan diminum 2-3 kali sehari pada pagi, siang, dan menjelang tidur. Rasanya pahit. Apalagi jika ditambah sambiloto. Menurut Idoh selama masih terasa pahit, ampas rebusan bisa digunakan berulang-ulang. Biasanya 3-4 kali rebusan.

Seminggu rutin mengkonsumsi, badan Erwan terasa segar, sehingga ia penasaran untuk memeriksakan ke dokter. Hasil laboratorium menunjukkan, kadar ureum turun dari 224,7 mg% menjadi 126 mg%. Demikian creatinin dari 7 mg% hingga tinggal 5 mg%.

Keyakinan Erwan akan sembuh semakin besar setelah 3 bulan rutin mengkonsumsi ramuan, kadar ureum mendekati normal, 53 mg%, dan creatinin sekitar 2 mg%. Angka itu tetap bertahan ketika 6 bulan lalu ia memeriksakan kembali ke dokter, sekalipun ginjalnya masih dinyatakan hancur.

Oleh karena itu sampai sekarang ayah Sugandi itu rajin mengkonsumsi rebusan ciplukan dan berpantang makan kacang-kacangan, daging, telur, dan sayur asam. “Tidak apa yang penting badan sehat dan bisa bekerja sehingga dapur pun ngebul,” kata Erwan.

Comments (0)
Tinggalkan Balasan

Lost your password?