Durian: Legit Saat Musim Hujan

Menghasilkan durian monthong dan chanee tetap legit dan manis pada musim hujan.

Johan Ariono membuka durian monthong dengan hati-hati. Ketika kulit buah terbelah, tampak daging yang kuning mengilap. Petani di Desa Sewurejo, Kecamatan Mojogedang, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, itu menyajikan durian jatuhan dari kebunnya kepada para tamu, antara lain Aziz Zakaria dari Kualalumpur, Malaysia, Adi Gunadi dan Tatang Halim (Jakarta), serta Nauval Firdaus (Jombang).

Wajah mereka berbinar sembari mengunyah daging buah yang lembut dan manis. “Rasanya manis, creamy, dan beraroma harum. Seratnya pun lebih lembut dan tidak benyek,” tutur Adi Gunadi, pencinta durian asal Jakarta Selatan. Itu berbeda dengan monthong di pasaran yang rasanya kerap hambar dan tanpa aroma akibat panen pada kematangan 70%. Johan hanya “memungut” buah jatuhan 3 hari sebelumnya.

Pupuk organ dari berbagai kota bersafari ke kebun-kebun durian di Karanganyar, Jawa Tengah.

Johan Ariono mengikat buah ke cabang sehingga ketika tangkai terlepas, buah tidak jatuh ke tanah. Hari itu ia membuka 5 monthong dan 3 durian chanee—semua buah jatuhan. Para tamu mengagumi citarasa durian yang tetap manis, meski berbuah dan panen pada puncak musim hujan. Lazimnya tanaman yang berbuah pada musim hujan cenderung kurang manis. Penggemar dan pemasok durian di Muarakarang, Jakarta Utara, Tatang Halim, sependapat.

Menurut Tatang, “Rasa manisnya tidak hilang di mulut meski telah dimakan beberapa menit. Makanya istilah buah durian tidak manis pada musim hujan, tidak berlaku lagi karena semua tergantung perawatan.” Sementara itu pakar durian di Malaysia, Aziz Zakaria, mengatakan bahwa rasanya belum maksimal. Dari pengalamannya 50 tahun bertanam durian, rasa monthong itu masih bisa ditingkatkan.

Kebun durian milik Johan Ariono berketinggian 300 meter di atas permukaan laut. Di kebun seluas 1 ha itu, Johan menanam 100 pohon. Jenisnya 70% varietas monthong, 20% chanee, serta sisanya introduksi dari Malaysia dan Thailand. Pohon-pohon itu kini berumur 16 tahun, tingginya mencapai 7—10 m. Menurut ayah 3 anak itu duriannya berbuah sejak berumur 4 tahun. Biasanya produksi buah berkisar 50—100 buah per buah.

Namun, setelah abu Gunung Kelud menerpa saat erupsi pada 2014, sebagian pohon rusak dan gagal panen. Selain itu tanah yang jadi padat akibat pemakaian pupuk kimia terus-menerus, diduga menyebabkan kualitas buah menurun. Rasanya kurang manis dan bagian tengah buah basah. “Musim buah tahun ini merupakan panen perdana sejak kondisinya dipulihkan,” ujar pria kelahiran Pontianak 43 tahun silam itu.

Pemulihan kondisi di antaranya dengan mengganti semua pupuk kimia dengan pupuk organik. Johan menebar 5—6 kg pupuk organik per pohon 3 kali setahun. Untuk mencukupi nutrisi, ia juga menyemprotkan pupuk daun setiap dua pekan. Efek pemulihan itu terlihat dari banyaknya kotoran cacing di bawah pohon, tanda tanah mulai subur. Daun-daun dan bunga baru pun terus muncul, meski buah belum panen.

 

Login

Select your currency
WhatsApp chat WhatsApp saya