Dua Varietas Kacang Hijau Unggul

Dua Varietas Kacang Hijau Unggul

Kementerian Pertanian merilis 2 varietas kacang hijau unggul bernama vima-2 dan vima-3 pada November 2014. Menurut Rudi Iswanto SP MP, pemulia varietas baru itu, vima-2 dan vima-3 unggul dibanding varietas sebelumnya yaitu vima-1 yang tahan terhadap embun tepung. “Dari penampakan biji, ada perbedaan antara vima-2 dan vima-3, yaitu warna hijau mengilap pada vima-2 sedangkan vima-3 hijau kusam,” ujar Rudi.

Ia dan rekan-rekan meriset untuk menghasilkan dua kacang hijau itu sejak 2009. Perakitan varietas mulai persilangan hingga uji multi lokasi membutuhkan 5 tahun. Vima-2 berpotensi hasil tinggi, umur genjah, masak serempak, polong mudah pecah, rendemen tinggi, kandungan protein tinggi, dan toleran terhadap serangan thrips. Vima-2 hasil persilangan antara varietas merpati sebagai tetua betina dan VC-6307A (tetua jantan).

Daerah kering
Varietas merpati koleksi Balitkabi yang dilepas pada 1991 dengan keunggulan polong matang hampir serentak, kualitas rebus baik, tidak terdapat biji keras, tahan bercak daun akibat serangan Cercospora sp. dan embun tepung. Kacang hijau merpati juga berkadar protein tinggi mencapai 18,53%. VC-6307A kode untuk plasma nutfah introduksi dari Asian Vegetable Research and Development Center (AVRDC) Taiwan. Galur itu berproduksi tinggi.

Adapun vima-3 berpotensi hasil tinggi, biji sesuai untuk kecambah, dan polong mudah pecah. Vima-3 hasil persilangan varietas walet dan tetua jantan MLG- 716. Varietas walet yang dilepas pada 1985 memiliki polong tidak mudah pecah, matang hampir serentak, tahan penyakit bercak daun, penyakit embun tepung akibat cendawan Erysphe polygoni, dan cukup tahan penyakit Rhizoctonia sp. Kacang hijau MLG-716 plasma nutfah dari Madura yang tahan hama penyakit.

Kedua varietas kacang hijau unggul itu ditujukan untuk meningkatkan produksi dan perekonomian petani di daerah kering dan sulit air. Sentra kacang hijau berupa daerah minim air pada musim kemarau seperti Demak dan Kudus, Provinsi Jawa Tengah, Gresik, Sidoarjo, Lumajang, dan Madiun (Jawa Timur), Wajo (Sulawesi Selatan), dan Sumbawa (Nusa Tenggara Barat).

Menurut Ketua Kelompok Tani Mudo Makaryo, Hadi Sukarjo, kehadiran varietas unggul itu sangat menarik. Umur tanaman genjah, kurang dari 60 hari dan panen yang serempak sangat menarik minat petani untuk menanamnya. Sepekan setelah panen padi dan memotong pendek batangnya, ayah 3 itu segera menanami lahan tanpa pengairan itu dengan benih kacang hijau. Benih 30 kg cukup untuk menanam di lahan 1 hektar miliknya dengan jarak tanam 40 cm x 5 cm.

Minat petani
Dengan keunggulan vima-2 dan vima-3 mempunyai potensi untuk untuk memenuhi kebutuhan kacang hijau dalam negeri. Hingga kini impor kacang hijau tergolong tinggi. Data Kementerian Pertanian menyebutkan bahwa pada 2013 Indonesia mengimpor 42.655 ton. Peluang untuk meningkatkan produksi kacang hijau nasional masih terbuka melalui pemanfaatkan varietas unggul dan lahan setelah tanaman padi pada musim kemarau.

Petani di daerah sentra kacang hijau bahkan sampai menyewa lahan tidur untuk membudidayakan kacang hijau. Mereka tertarik pada harga jual yang mencapai Rp15.000–Rp19.000 per kg. Meski saat panen harga anjlok, Rp11.000–Rp12.000 per kg. Namun, itu tidak merisaukan petani. “Ibaratnya sampai harga terendah Rp10.000 per kg pun, petani tetap untung, karena biaya produksi hanya berkisar Rp1,5-juta per hektar,” kata Hadi.

Login

Dapatkan GRATIS ongkir untuk tujuan pengiriman pulau Jawa dengan pembelian minimum Rp 300,000 Tutup

Contact Person WhatsApp saya