Jamur dewa

Dewa Penyelamat Rahim

Kebahagian Sugiarti atas kelahiran putra ke-4 pada 2008 tidak berlangsung lama. Ibu rumah tangga di Desa Kebunlima, Kecamatan Bukitkerman, Kabupaten Kerinci, Provinsi Jambi, itu kerap merasakan sakit perut. “Seperti ada yang bergerak di dalam perut, nyerinya sampai menjalar ke dada,” ujarnya. Saat derita itu kambuh, perempuan berusia 32 tahun itu akan meminta Suparyono, suaminya, untuk memijat perut dan pinggangnya.

Rasa sakit itu semakin menghebat ketika ia menstruasi. Saat tidak kuat menahan rasa sakit, barulah Sugiarti minta diantar ke dokter atau bidan. Dokter belum mampu menemukan pemicu utama rasa sakit yang menderanya. Dugaan dokter masih ada darah kotor sisa persalinan yang tertinggal dalam rahim. Itulah sebabnya ahli medis itu hanya memberikan penghilang rasa sakit.

Hormonal
Nyeri itu memang sempat hilang beberapa tahun. Tidak dinyana, rasa sakit itu kembali muncul pada 2011, bahkan lebih nyeri dibandingkan sebelumnya. Setiap hari badan Sugiarti terasa lesu dan tidak fit. Rasa sakit ketika menstruasi juga kembali terasa, bahkan lebih parah. Untuk mengatasinya, ibu rumah tangga yang ahli menjahit itu hanya mengonsumsi penghilang nyeri datang bulan yang dijual bebas. Puncaknya pada September 2014, ketika ia pingsan lantaran tak kuasa menahan rasa sakit di perutnya.

Suparyono pun memboyong perempuan yang dinikahinya pada 1999 itu ke rumah sakit. Pemeriksaan ultrasonografi menguak keberadaan kanker di rahim Sugiarti. Dokter kandungan pun merekomendasikan pengangkatan kanker paling lambat sebulan sejak pemeriksaan itu. Menurut dr Ari Udiyono, dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Diponegoro, Semarang, pemicu kanker rahim biasanya siklus hormonal.

Hal lain yang memicu antara lain infeksi, trauma, kehamilan yang terlalu sering, atau jarak kehamilan terlalu dekat. Kanker itu rawan menyerang pada usia matang di atas 30 tahun, tetapi kehamilan di usia kurang dari 20 tahun pun rentan risiko kanker. “Bukan hanya membahayakan bayi, ibu hamil di usia yang terlalu muda pun berisiko karena organ reproduksinya belum sempurna,” ujar dr Ari.

Kanker rahim merupakan penyebab kematian tertinggi bagi perempuan. Banyak perempuan baru menyadari kehadiran kanker itu setelah telanjur mencapai stadium lanjut lantaran ketidaktahuan akan gejala dan penyebabnya. Itu sebabnya kepiting ganas itu mendapat julukan the silent lady killer.

Batal operasi
Saat dirawat di rumahsakit, seorang teman menyarankan Sugiarti mengonsumsi herbal jamur dewa Agaricus blazei sebagai alternatif. Demi kesembuhan, ia pun mencoba. Sugiarti meminum satu tutup botol ekstrak jamur dewa setiap 2 jam. Tanpa menunggu lama pengaruhnya tampak. Ia merasakan sekujur tubuhnya panas, perutnya semakin terasa nyeri. Sepekan sejak pertama mengonsumsi, ia mengalami pendarahan hampir setiap hari.

Pada hari ke-20—ke-30, pendarahannya mencapai puncak. “Darah yang keluar kehitaman dan bergumpal-gumpal,” kata Suparyono yang selalu mendampingi istrinya itu. Ia menghabiskan 9 botol—masing-masing bervolume 330 ml per botol—selama sebulan. Namun, pendarahan hebat 10 hari terakhir membuatnya ngeri dan merasa tidak cocok. Keluarga yang merasa waswas pun mendorong Sugiarti menjalani pengangkatan kanker rahim.

Pada Oktober 2014, tepat sebulan setelah pemeriksaan pertama, Sugiarti ditemani sang ayah berangkat ke rumahsakit, sedangkan anggota keluarga yang lain menyusul. Sesaat sebelum operasi, dokter melakukan observasi terakhir. Ternyata dokter membatalkan operasi dan menyuruh Sugiarti kembali ke ruang perawatan. Keputusan dokter itu membuat berang Suparyono yang datang belakangan. Dia menuduh dokter membatalkan operasi lantaran menganggap mereka tidak mampu membayar.

Dengan emosi tinggi, Suparyono mendatangi dokter dan menyerahkan setumpuk uang untuk biaya operasi. Di luar dugaan, dokter menjelaskan dengan sabar sembari menunjukkan hasil pemindaian USG terakhir rahim Sugiarti. Citra pemindaian itu menunjukkan rahim Sugiarti bebas dari benjolan ganas yang sebelumnya bercokol di sana. Alih-alih melakukan operasi pengangkatan, dokter malah menyuruh mereka berkemas dan pulang.

Stimulator makrofag
Kesembuhan Sugiarti dari kanker rahim dijelaskan oleh penelitian G. Hetland dan rekan dari Departemen Imunologi dan Kedokteran Transfusi, Oslo University Hospital, Ulleval, Norwegia. Jamur dewa Agaricus blazei mengandung banyak modulator respons kekebalan, antara lain proteoglikan dan betaglikan yang merupakan stimulator kuat sel-sel makrofag. Zat betaglikan terkenal sebagai antitumor, begitu juga proteoglikan dan ergosterol, 2 zat lain yang terkandung dalam jamur dewa.

Adapun ß-1,3/1,6-glikan yang berasal dari khamir dan jamur banyak diteliti khasiatnya dalam uji klinis untuk kanker. Sebelumnya, penelitian khasiat antitumor jamur dewa oleh Ohno N dan rekan yang termuat dalam buletin Farmasi Biologi Internasional (International Biology Pharmacy Bulletin) menyebutkan bahwa khasiat antitumor jamur dewa karena adanya zat ß-1,3-glikan.

Selain itu, kandungan ß-1,6-glikan dalam jamur dewa memicu penyusutan sel tumor tikus, sementara konsumsi harian ß-glikan mengurangi penjalaran spontan sel kanker rahim dan paru tikus. Penyakit pada organ reproduksi perempuan paling susah dideteksi karena biasanya gejalanya mengikuti ritme menstruasi. Menstruasi yang maju atau terlambat dari jadwal, rasa nyeri yang berlebihan, atau tidak teratur patut dicurigai. Bisa jadi itu gejala kanker rahim. Untunglah Sugiarti terbebas dari kanker rahim lantaran konsumsi jamur dewa.

Login

Dapatkan GRATIS ongkir untuk tujuan pengiriman pulau Jawa dengan pembelian minimum Rp 300,000 Tutup

Contact Person WhatsApp saya