Cabai dan Paprika Capsicum Pilihan Pekebun

Cabai dan Paprika Capsicum Pilihan Pekebun

Dua varietas cabai keriting dan paprika unggul baru. 

Awal 2017 membawa berkah bagi Asep Saepudin. Pekebun cabai di Kecamatan Leles, Kabupaten Garut, Jawa Barat, itu meraup untung berlipat dari perniagaan cabai. Dari penjualan hasil panen pada awal tahun, omzet pekebun cabai sejak 2005 itu Rp5.040.000—Rp10.080.000. Omzet itu meningkat sekitar 70—80%. Sebelumnya pendapatan Asep hanya Rp2.800.000—Rp6.720.000 per musim.

Pendapatan itu Asep peroleh dari penjualan buah pedas dari 224 tanaman cabai keriting di lahan 560 m². Ia memperoleh laba berlipat lantaran harga Capsicum annuum meroket menjelang 2017. “Harga normal di tingkat petani biasanya Rp25.000—Rp30.000 per kg. Pada awal 2017 harga jual meningkat menjadi Rp45.000 per kg,” katanya. Para pengepul juga membeli cabai produksi Asep dengan harga lebih tinggi daripada cabai dari pekebun lain. Itu karena Asep menanam cabai keriting varietas maghma yang diproduksi PT Clause Indonesia.

Menurut Asep, kualitas cabai keriting maghma lebih baik daripada cabai keriting lainnya karena sosok buah mulus. “Jika harga cabai keriting jenis lain Rp10.000, harga jual cabai maghma mencapai Rp11.000 karena diminati pasar dan kualitasnya bagus,” papar Asep.

Ayah 3 anak itu menambahkan, pertumbuhan cabai maghma bagus dan berbuah lebat. “Tingginya bisa mencapai 2 meter dengan hasil panen 0,5—1 kg per tanaman,” katanya. Umur panen perdana hampir sama dengan cabai keriting lainnya 90—100 hari. “Untuk segi rasa konsumen tidak ada yang protes. Dipanen saat masih hijau saja rasanya sudah pedas,” katanya.

Menurut national sales manager PT Clause Indonesia, Eko Hadi Afandi, cabai maghma hasil persilangan dari tetua yang diintroduksi dari Thailand. Hasil persilangan itu menghasilkan varietas cabai keriting yang memiliki kelebihan adaptasi yang luas dan produksi tinggi. Dengan teknik budidaya yang tepat, potensi hasil varietas yang memakan waktu 5 tahun penelitian itu bisa menghasilkan 20—25 ton per hektare. “Kami sudah menguji di beberapa tempat. Kini benih tersebar di Pulau Jawa dan Sumatera,” katanya.

Laba

Para pekebun cabai juga dapat memilih varietas unggul lain, yaitu varietas laba produksi PT East West Seed Indonesia (Ewindo). Menurut Rizza Fariz Syaukani dari bagian spesialis produk cabai PT Ewindo, laba cabai keriting berpotensi hasil 1—1,5 kg per tanaman. “Potensi hasil optimal bisa sampai 20 ton per hektare dengan jarak tanam 60 cm x 70 cm.

Cabai laba membutuhkan jarak tanam lebih lebar untuk pembentukan tajuk dan pembungaan,” katanya. Jumlah produksi itu 2—3 kali lebih banyak dibandingkan dengan rata-rata hasil panen cabai keriting di tanahair yang hanya 8 ton per hektare. Cabai hibrida hasil persilangan varietas asli tanahair itu dapat adaptif pada ketinggian 0—1.000 meter di atas permukaan laut (m dpl). Umur panen perdana tergolong genjah, yakni hanya 90—95 hari. Keunggulan lain toleran terhadap penyakit layu bakteri dan Pythophtora capsici, serta serangan hama thrips. Rizza menambahkan, kualitas buah laba sangat baik, yakni berwarna merah, mengilap, dan ukurannya seragam. “Buahnya juga bebas penyakit kuning buah,” kata Rizza.

Login

WhatsApp chat WhatsApp saya