Bukan Melulu di Taman

Bukan Melulu di Taman

Rangkaian amarilis di gerai New Fashion Flower saat pameran Horti Asia di Bangkok, Thailand, menyedot perhatian para pengunjung. Mereka mengamati amarilis yang dipajang sebagai bunga potong. Lazimnya bunga amarilis menghias taman atau tumbuh di pot. Kadang pehobi mengekspos umbi tanaman hias itu sehingga sebagian muncul di atas media tanam.

Bunga tanaman anggota famili Liliaceae itu memang sangat jarang tampil sebagai bunga potong. Jadi wajar bila banyak pengunjung pameran yang pangling pada bunga bakung-bakungan itu. “Amarilis memang jarang dibuat sebagai bunga potong, tetapi kami sering melakukannya,” ujar Richard Bennet, pemilik gerai New Fashoin Flowers, pengusaha asal Belanda.

Ia lalu memasukkan umbi ke lemari pendingin bersuhu 4—50C selama 3 bulan. Setelah itu ia mengeluarkan umbi agar mendapat sinar matahari. Paparan sinar surya “mengagetkan” umbi tanaman kerabat bawang merah itu sehingga memunculkan daun disusul bunga. Bennet mendatangkan umbi amarilis dari Belanda kemudian menanamnya di Thailand.

Suhu dingin
Richard Bennet menampilkan beberapa varietas amarilis, yakni ice cream, superstar, dan flaming peacock. Ia memajang ketiganya di wadah berisi air sehingga bunga bertahan tiga hari. Selama pameran yang berlangsung 3 hari itu bunga amarilis tetap segar. Menurut Bennet pekebun mampu memperkirakan waktu panen bunga lain, sebaliknya amarilis tidak demikian. Oleh karena itu bila tangkai bunga sudah panjang dan bunga siap mekar, segera ia memotongnya lalu memasukkan tangkai itu ke wadah berisi air.

Menurut warga negara Belanda yang setiap pekan bolak balik Belanda—Thailand itu, amarilis bisa juga tumbuh di Indonesia karena iklimnya sama dengan Thailand. Amarilis sohor di kalangan pencinta tanaman hias di Indonesia. Mereka memanfaatkannya sebagai elemen taman, terutama sebagai tanaman border. Para perancang taman menghadirkan amarilis di pinggir jalan setapak dalam taman.

Saat berbunga serempak, taman pun semarak. Sayang setelah bunga layu, ia baru berbunga kembali 3—4 bulan kemudian. Itu pun di daerah dingin. Di daerah panas, amarilis belum lazim dihadirkan di halaman. Bukan berarti tidak ada pehobi yang memelihara amarilis di daerah panas. Pengusaha tanaman hias di Parung, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Ricky Hadimulya menanam 4 varietas amarilis bunga tumpuk pada 2012.

Keempatnya tumbuh dengan baik di kebunnya berketinggian 200 meter di atas permukaan laut bersuhu panas. Ricky tidak memanfaatkannya sebagai bunga potong, melainkan tanaman pot. Itu karena daya tahannya hanya 2—3 hari setelah potong. Ricky mengatakan perendaman tangkai bunga di air menyebabkan daya tahannya meningkat menjadi 5—7 hari. “Bila ingin menikmati keindahannya lebih lama, sertakan umbinya,” ujar pemilik Hara Nurseri itu.

Garis tegak
Perangkai bunga mengharapkan bunga awet agar keindahan rangkaian bertahan lama. Wajar bila Ketua Masyarakat Floristry Indonesia, Els Tiwar, merasa terkejut mendengar amarilis sebagai bunga potong. “Bagus sekali bila ada amarilis untuk bunga potong,” ujarnya. Menurut perangkai bunga kenamaan di Jakarta itu, amarilis dipakai untuk “menghadirkan garis lurus” karena batangnya panjang. Bunganya yang terletak di bagian atas, bisa menjadi titik pusat karena berwarna cerah dengan bentuk menarik, mirip terompet.

Selain untuk rangkaian meja, amarilis pun sangat manis sebagai buket tangan. Untuk keperluan itu, yang dipakai kuntum bunga yang dilepas dari tangkai. Menurut Els meski cantik, amarilis pun punya kelemahan, yaitu bunga cepat layu. Ia berbeda dengan bunga lain yang kebutuhan airnya cukup dari media tempat menancapkan (spons). Sebab, tangkai bunga berumbi itu berlubang sehingga penyerapan air tidak maksimal.

Untuk mengatasinya pemilik sekolah Els’s School of Floral Design itu memasukkan ujung tangkai dalam plastik atau menggunakan tube besar lalu mengisinya air. Bila perlu setiap 1—2 hari, potong tangkai bunga untuk memperbaharui bidang tangkai yang menyerap air. Dengan demikian penyerapan air berlangsung lancar sehingga bunga tetap segar 3—5 hari.

Pemanfaatan amarilis sebagai bunga potong kini juga mulai diminati. Buktinya PT Mandiri Jaya Flora yang menyediakan amarilis potong terserap pasar. Perusahaan itu menanam amarilis di Megamendung, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Menurut Sri Ningsih Budianti dari perusahaan itu, jumlah tanaman berkisar 500—1000 umbi. Saat bunga hampir mekar, Ningsih memanen bunga dan menjual ke perangkai bunga.

Ningsih mengatakan sulit memperkirakan volume panen lantaran kemunculan bunga sulit diprediksi. Yang pasti umbi amarilis mempunyai masa istirahat alias dorman selama tiga bulan. Setelah masa dormansi berakhir amarilis pun berbunga. Menurut karyawan bagian pemasaran itu, harga satu kuntum bunga Rp5.000. Satu tangkai menghasilkan 1—5 kuntum. Sebuah umbi rata-rata menghasilkan 1 tangkai dalam satu periode berbunga.

Login

Dapatkan GRATIS ongkir untuk tujuan pengiriman pulau Jawa dengan pembelian minimum Rp 300,000 Tutup

Contact Person WhatsApp saya