Bebaskan Saraf Terjepit

Bebaskan Saraf Terjepit

Hendrikus duduk bersantai menonton televisi bersama putri kesayangannya, Agnes. Namun, Agnes melihat keanehan di wajah sang ayah. Mata kiri Hendrikus seperti tertarik ke arah tengah sehingga tampak juling. Hendrikus juga mengeluh pandangannya buram. Esoknya Agnes mengantar sang ayah ke dokter mata. Namun, dokter tidak menemukan masalah apa pun.

Sang dokter lantas merujuk Hendrikus ke dokter spesialis saraf untuk pemeriksaan lanjutan. Agnes pun memboyong ayahnya menjumpai dokter spesialis saraf terkemuka di Kota Malaka, Malaysia. Namun, di bandara Kualalumpur, Malaysia, Hendrikus tak menyadari sepatunya terlepas ketika hendak menuju mobil yang akan membawa mereka ke Malaka. Ternyata kedua kakinya mati rasa.

Saraf terjepit
Mereka berkonsultasi pada dokter spesialis saraf. Namun, dokter tidak menemukan pangkal penderitaan pengusaha kuliner di Pekanbaru, Provinsi Riau, itu. Itulah sebabnya Agnes berinisiatif mengajak sang ayah berkonsultasi dengan spesialis ortopedi. Pemeriksaan citra resonansi magnetik (MRI) akhirnya mengungkap muasal keluhan yang mendera Hendrikus. Tiga ruas tulang belakang di atas garis pinggang meradang.

Akibatnya ada serabut saraf yang menyelip di antara rongga antarruas. Sang ortopedis menyatakan bahwa gangguan yang mendera pria berumur 71 tahun itu akibat saraf terjepit. Tulang belakang berupa rangkaian tulang yang tersambung memanjang dari leher hingga tulang ekor di panggul. Setiap ruas tulang belakang tersambung dengan ruas di bawah atau di atasnya oleh jaringan ligamen atau pengikat sendi.

Menurut Dr dr H Hardhi Pranata SpS MARS, dokter spesialis saraf RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta Pusat, di antara ruas terselip bantalan lunak dan liat dari bahan lemak yang mencegah terjadinya gesekan antarruas, yang disebut bantalan intervertebral. “Setiap kita bergerak, bantalan intervertebral tergerus dan rusak. Tapi saat tidur bantalan itu direstorasi oleh tubuh,” kata Dr dr H Hardhi Pranata SpS MARS.

Kelebihan bobot badan, kerap mengangkat beban berat, atau usia lanjut dapat menyebabkan pergeseran atau kerusakan permanen di bantalan intervertebral. Itulah pemicu hernia nukleus pulposus (HNP) alias saraf terjepit. Penyebab lain, pola hidup modern yang membuat orang melakukan banyak hal sembari duduk. Sejatinya, sistem rangka dan otot berkembang untuk fungsi berdiri tegak atau berjalan.

“Jika duduk, apalagi membungkuk, bantalan tertekan ke samping atau ke belakang. Dalam jangka panjang, bantalan itu bisa bergeser,” kata Hardhi. Faktor usia lanjut meningkatkan risiko HNP karena orang lanjut usia cenderung mengalami penurunan massa tulang. Padahal tulang belakang juga menjadi tempat melekatnya sistem saraf yang mengatur seluruh anggota tubuh. Absennya sekat itu menjadikan ruas sendi saling berbenturan dan mengimpit jaringan saraf yang melaluinya.

Menjaga tulang
Hardhi mengatakan ada 2 jenis saraf, yakni motorik alias penggerak dan sensorik alias pengindera. Jika saraf motorik yang terjepit, maka terjadi gangguan fungsi gerak, sedangkan kalau saraf sensorik terimpit maka terjadi gangguan indera perasa. “Salah satu gejala HNP adalah rasa sakit atau malah mati rasa,” kata Hardhi. HNP akibat usia lanjut itulah yang dialami Hendrikus. Sudah begitu, pada usia 30-an, ia pernah terjatuh cukup keras.

Untuk memperbaiki kondisinya, ortopedis memberikan obat penekan sakit. Setelah obat habis, ayah 5 anak itu harus kembali menemui ortopedis untuk mempersiapkan operasi. Keberatan menjalani operasi, Hendrikus pun berpaling kepada bahan alam. Seorang rekan Agnes menyarankan agar Hendrikus mengonsumsi ekstrak bluberi. Terdorong keinginan kuat untuk sembuh, ia langsung menuruti saran itu.

Pria kelahiran Tanjungbatu, Karimun, Provinsi Kepulauan Riau, itu mengonsumsi ekstrak berbentuk konsentrat sebanyak 1 sendok makan ketika sarapan sejak awal November 2014. Setelah 2 pekan konsumsi, Hendrikus merasakan kakinya kembali bertenaga. Ia pun meneruskan konsumsi. Kini ia bebas dari keluhan kaki lemas dan kebas. Penglihatannya kembali normal, demikian juga dengan posisi matanya.

Kondisi Hendrikus yang terus membaik itu sejalan dengan riset Latha Devareddy dan kolega dari Jurusan Ilmu Nutrisi, Pangan, dan Olahraga, Universitas Florida, Amerika Serikat. Latha menguji khasiat ekstrak bluberi menggunakan 30 tikus putih betina berumur 6 bulan. Ia memisahkan tikus percobaan menjadi 3 kelompok: kontrol negatif, kontrol positif, dan perlakuan. Ia membuat tikus mengalami penurunan kepadatan tulang dengan mengangkat peranakan tikus di kelompok kontrol positif dan kelompok perlakuan.

Kelompok perlakuan ia beri ekstrak bluberi sebanyak 5% bobot badan. Selang 100 hari, ia membedah tikus percobaan lalu menganalisis kepadatan tulang lengan, paha, dan tulang belakangnya. Hasilnya tikus yang mengonsumsi ekstrak bluberi memiliki kepadatan tulang dan kandungan mineral lebih baik ketimbang kedua kelompok lain. Kandungan mineral tulang tikus di kelompok kontrol positif 6% lebih rendah ketimbang kelompok perlakuan. Latha menduga ekstrak bluberi menghambat pelarutan mineral dari tulang ke dalam darah sehingga kandungan mineral dan massa tulang pun terjaga.

Menurut Prof Dr Li Deming, periset bluberi di Universitas Cornell, Amerika Serikat, bluberi kaya vitamin, mineral, serta berbagai jenis pigmen yang bersifat antioksidan. Pigmen itu terutama dari golongan antosianin, yang berwarna sian alias biru keunguan. Bahan makanan yang juga kaya antosianin antara lain buah anggur, rumput laut merah, atau ubijalar ungu. Kandungan antioksidan bluberi sangat tinggi dengan nilai ORAC lebih dari 9.000.

Itu melebihi kandungan antioksidan anggur yang hanya di angka 5.000. ORAC (oxygen radical absorbance capacity) menyatakan kemampuan suatu zat “menangkap” alias menetralkan oksigen radikal biang keladi kerusakan sel. Itu menjadi bukti sahih khasiat buah asli Benua Amerika itu.

Login

WhatsApp chat WhatsApp saya